Hati-Hati, Penderita “Darah Tipis” Rentan Terhadap Luka dan Pendarahan

Hati-Hati, Penderita “Darah Tipis” Rentan Terhadap Luka dan Pendarahan

Pada dasarnya, tubuh manusia sebagian besar tersusun atas air dan darah. Coba bayangkan apa jadinya kalau manusia tidak memiliki darah atau mungkin hanya terdiri dari tulang dan daging (tanpa darah). Pasti mengerikan, bukan?

Seseorang yang tidak memiliki darah tidak bisa disebut manusia, karena sangat mustahil ada manusia yang bisa hidup tanpa cairan tersebut, karena darah merupakan alat transportasi yang membawa makanan yang kita masukkan ke dalam tubuh melalui mulut.

Darah lah yang bertugas mengantarkan nutrisi-nutrisi makanan yang telah dicerna tersebut ke seluruh tubuh. Namun meskipun manusia pada dasarnya memiliki darah, kondisi darah tersebut pastilah berbeda-beda antara satu orang dengan yang lainnya.

Beberapa orang diketahui memiliki kondisi darah yang tidak normal. Ketidaknormalan inilah yang kita kenal sebagai penyakit anemia (kekurangan darah), leukimia (kelebihan sel darah putih di dalam darah) dan sebagainya.

Beberapa orang juga memiliki masalah kondisi darah lain yang dikenal sebagai “Thin Blood” atau darah tipis. Apakah anda pernah mendengar istilah ini sebelumnya? Ataukah ini yang pertama kalinya? Anda pasti penasarankan dengan makna dari istilah darah tipis ini?

Kalau memang begitu, kami dengan senang hati akan memberikan penjelasannya untuk anda. Mana tahu beberapa di antara anda juga memiliki masalah yang sama. Tak perlu berbasa-basi lagi, langsung saja kita lihat penjelasannya di bawah ini.

Mengenal Kondisi Darah Tipis (Thin Blood)

Seperti yang telah kami sebutkan tadi, sebagian orang ada yang mengalami masalah pada kondisi darahnya yang dikenal sebagai darah tipis. Kok darah bisa tipis sih?

Bukannya tipis itu cuma cocok dipakai untuk menggambarkan kondisi benda tertentu seperti kertas tipis misalnya? Kenapa darah yang berbentuk cair bisa dikatakan tipis? Aneh sekali?

Saat ini mungkin anda sedang mempertanyakan sejumlah pertanyaan terkait hal ini. Pertanyaan anda mungkin saja sama seperti yang kami sebutkan di atas tadi. Itu wajar karena istilah ini memang masih sangat asing di telinga kita.

Kondisi darah tipis ini memiliki arti bahwa di dalam darah seseorang, jumlah trombositnya terlalu sedikit (tidak normal). Trombosit sendiri merupakan bagian penting dari darah yang bertugas membantu proses penggumpalan.

Kalau dilihat dari pengertiannya, darah tipis ini mungkin ada kaitannya dengan penyakit hemofilia, yaitu penyakit yang disebabkan karena tubuh hanya mampu menghasilkan jumlah kepingan darah yang sangat sedikit jumlahnya. Untuk memastikannya, anda harus membaca penjelasan artikel ini sampai selesai.

Darah tipis umumnya memiliki beberapa ciri atau gejala. Gejala utamanya adalah pendarahan yang berlebihan dan memar yang sulit pulih. Artinya, ketika anda terluka, bahkan terkena luka sekecil apapun, resiko untuk terjadinya pendarahan akan jauh lebih tinggi.

Secara keseluruhan, darah terdiri dari 4 (empat) komponen utama, yaitu: plasma, sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Trombosit membentuk 1-2% darah dan bertugas membantunya untuk membeku.

Kondisi yang disebut sebagai darah tipis ini dikenal sebagai trombositopenia, yang disebabkan karena jumlah trombosit yang terlalu rendah.

Tingkat normal trombosit di dalam darah adalah antara 150.000 – 400.000 per mililiter (mL). Jika kadar trombosit turun di bawah 150.000 / mL, maka ada kemungkinan kalau anda mengalami kondisi darah tipis.

Faktor Penyebab Darah Tipis

Proses pembuatan atau pembentukan trombosit terjadi di Limpa. Setelah terbentuk, trombosit yang memiliki umur pendek hanya bisa bertahan hidup antara 7 sampai dengan 10 hari.

Jika terjadi gangguan pada saat proses pembentukannya, inilah yang nantinya akan menyebabkan pengurangan pada jumlah trombosit yang dihasilkan. Dan akibatnya, seseorang akan mengalami kondisi darah tipis.

Berbagai faktor dapat menyebabkan jumlah trombosit pada seseorang semakin berkurang atau rendah, termasuk diantaranya seperti :

1. Menurunnya Produksi Trombosit

Beberapa infeksi virus, seperti : HIV, hepatitis C, gondong, rubela, atau virus Epstein-Barr diketahui dapat menyebabkan jumlah platelet atau trombosit jatuh atau berkurang. Gangguan sumsum tulang, seperti leukemia dan limfoma, juga dapat mempengaruhi jumlah trombosit yang diproduksi.

2. Pengkonsumsian Jenis Obat Tertentu

Sebagian orang yang memiliki masalah jantung biasanya akan mengonsumsi obat pengencer darah untuk mengurangi resiko serangan jantung dan stroke. Ada 2 (dua) jenis obat utama yang diketahui berpotensi mengencerkan darah, yaitu:

  • Antikoagulan : ini termasuk heparin dan warfarin, yang bekerja untuk memperpanjang waktu yang dibutuhkan untuk membentuk gumpalan.
  • Obat antiplatelet : misalnya Aspirin, yaitu salah satu contoh obat yang dapat mengencerkan darah dan mencegah platelet membentuk gumpalan.

Pengkonsumsian kedua jenis obat di atas akan memperbesar resiko terjadinya masalah pada proses pembentukan kepingan darah yang akan mengarah pada masalah darah tipis.

3. Gangguan Pada Limpa

Limpa adalah organ yang berperan menghasilkan trombosit, sehingga sedikit saja terjadi masalah pada limpa dapat menyebabkan darah tipis. Beberapa kondisi yang bisa mempengaruhi limpa adalah termasuk :

  • Splenomegali, atau pembesaran limpa
  • Hipersplenisme, yang dapat menyebabkan platelet terperangkap di limpa

4. Peningkatan Kerusakan Trombosit

Kondisi autoimun tertentu, seperti rheumatoid arthritis dan lupus eritematosus sistemik (SLE), dapat meningkatkan jumlah trombosit yang hancur. Jika trombosit baru tidak segera dengan cepat dibentuk, maka seseorang kemungkinan akan mendapatkan masalah karena hal tersebut.

5. Penyakit hati kronis (CLD)

CLD (Chronic Liver Disease) juga berperan menyebabkan seseorang memiliki darah tipis, karena hal ini bisa menurunkan tingkat thrombopoietin, yang merupakan hormon yang bertanggung jawab untuk merangsang produksi trombosit. Tingkat thrombopoietin yang rendah akan mengurangi tingkat dimana trombosit diproduksi.

6. Fakta lain

Selain kelima faktor-faktor yang telah disebtkan di atas, ada juga beberapa variabel fisiologis yang dapat mempengaruhi jumlah trombosit seseorang, di antaranya:

  • Penuaan : Jumlah trombosit bisa menjadi lebih rendah seiring dengan bertambahnya usia
  • Genetika : Beberapa orang memiliki jumlah trombosit yang rendah karena faktor genetik
  • Kehamilan : Jumlah trombosit yang rendah mempengaruhi sekitar 5-7 persen wanita hamil, menyebabkan darah tipis

Ciri-Ciri Seseorang Mengidap Thin Blood

Kondisi darah yang tipis pada umumnya tidak memiliki gejala yang begitu signifikan. Biasanya ini harus didiagnosis dalam tes darah untuk mengetahui atau melihat kemungkinan kondisi lain yang terjadi.

Jumlah trombosit yang lebih sedikit, yang dalam arti tidak normal, dapat membuatnya kesulitan dalam melakukan peran atau tugas yang seharusnya dilakukan. Salah satunya adalah darah menjadi lebih sulit untuk menggumpal.

Jadi, siapa pun anda yang mengalami pendarahan yang berlebihan atau berlangsung sangat lama, bahkan dari luka kecil sekalipun, mungkin memiliki resiko darah yang tipis.

Tanda-tanda lain yang mungkin akan diperlihatkan oleh kondisi ini adalah termasuk gusi berdarah, mimisan, ditemukannya darah di tinja dan aliran menstruasi yang berat tanpa pembekuan darah.

Kadang-kadang, seseorang dengan darah tipis juga dapat rentan memar yang dikenal sebagai purpura, atau pendarahan pinprick pada kulit yang disebut petechiae.

Bagaimana Cara Mendiagnosis Kondisi Ini?

Kebanyakan penyakit ditemukan setelah melalui tahap diagnosis, tak terkecuali dengan kondisi yang bernama darah tipis. Sesorang bisa dipastikan mengalami kondisi ini setelah dokter melakukan sejumlah pemeriksaan pada si penderita.

Bagaimana cara dokter bisa mendiagnosisnya?

Seorang dokter dapat mendiagnosis darah tipis dengan melihat jumlah trombosit di dalam jumlah darah lengkap atau CBC seseorang. Tentu saja untuk mengeceknya mereka harus menggunakan sebuah alat atau teknologi khusus, agar hasil yang didapatkan lebih akurat (minim kesalahan).

Ketika anda mengalami hal-hal semacam gejala yang disebutkan di atas dan anda memutuskan untuk menemui dokter untuk melakukan pengecekan, penting bagi anda untuk memberi tahu mereka semua hal yang berkaitan dengan kondisi anda secara keseluruhan.

Jangan pernah enggan untuk mengutarakan keluhan anda kepada mereka, karena hal tersebut akan sangat membantu proses pemeriksaan dan pengobatan anda.

Beritahu mereka jika memang anda mengkonsumsi jenis obat-obatan tertentu atau suplemen jenis lainnya, yang bisa jadi ada kaitannya dengan masalah kesehatan yang sedang anda alami. Ini termasuk obat penghilang rasa sakit, seperti aspirin.

Darah Tipis vs Darah Tebal

Biasanya, kalau ada yang baik pasti ada yang buruk, begitu pula dengan kondisi darah yang satu ini. Ternyata bukan hanya darah tipis saja yang ada, tapi juga ada yang yang namanya darah tebal. Kok bisa ya begitu? Lantas, apa yang membedakan keduanya?

Kedua kondisi ini memiliki masalahnya sendiri. Kalau darah tipis menimbulkan masalah dengan pembekuan, penyembuhan luka dan memar, maka di sisi lain darah tebal dapat meningkatkan resiko pembekuan darah dan trombosis, yang dapat mengancam jiwa.

Intinya, baik itu kekurangan ataupun kelebihan trombosit, keduanya sama-sama berpotensi menyebabkan masalah serius pada seseorang.

Faktor yang meningkatkan resiko untuk darah tebal atau kental, meliputi: genetika, kegemukan, peradangan kronis, resistensi, insulin dan diabetes, pilihan makanan yang dikonsumsi, seperti terlalu banyak memakan makanan yang dapat menyebabkan kolesterol

Selain itu, ada pula faktor pemicu lainnya yang dikenal sebagai Polycythemia, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan darah menebal karena tingginya jumlah sel darah merah.

Untuk masalah ini, dokter bisa meresepkan obat antikoagulan, seperti heparin dan warfarin ketika darah tebal dan seseorang yang memiliki peningkatan resiko penggumpalan darah, stroke, ataupun serangan jantung.

Adakah Cara Untuk Mengobatinya?

Perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan orang-orang yang memiliki masalah darah tipis akan tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Namun, terkadang mengobati penyebab yang mendasarinya juga memiliki kemungkinan tidak akan mengubah jumlah trombosit dan darah akan tetap tipis.

Terkadang beberapa dokter akan meresepkan kortikosteroid untuk mengobati darah tipis dalam kondisi seperti purpura thrombocytopenic idiopatik (ITP). Dalam kasus yang lebih parah, mereka dapat merekomendasikan transfusi trombosit.

Kapan pun anda merasa memiliki beberapa gejala di atas, ingatlah bahwa sangat penting untuk bertemu dan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosis sakit anda.

Tim medis atau dokter akan membantu anda menemukan penyebab yang mendasari masalah tersebut dan mungkin mereka juga akan mengembangkan rencana perawatan yang dipersonalisasi.

Mereka juga dapat menyarankan seseorang tentang cara mengambil tindakan pencegahan yang kemungkinan akan disebabkan oleh darah tipis, termasuk pendarahan yang berlebihan.

Sekarang anda sudah mengertikan seperti apa kondisi darah tipis itu sebenarnya? Setelah informasi di atas, adakah di antara anda yang mengalami kondisi semacam ini?

Kalau memang anda melihat ada gejala seperti yang disebutkan di atas, yang diperlihatkan oleh tubuh anda atau mungkin keluarga anda, maka segeralah periksakan kondisi anda.

Bukankah mencegah itu lebih baik mengobati? Yah, mana tahu sebelum bertambah parah, dokter bisa membantu memberikan solusinya.