Jepang Kembangkan Ultrathin, Kulit Elektronik Yang Bisa Memantau Organ Vital Pasien

Lagi, lagi dan sekali lagi Jepang menunjukkan eksistensi mereka sebagai salah satu pencipta teknologi canggih dunia. Kali ini mereka berhasil menciptakan sebuah layar atau monitor ultra yang sangat tipis, bahkan lebih tipis dari sehelai kertas atau bahkan tisu.

Kalau dilihat dari bentuknya, teknologi ini sangat mirip seperti plester yang biasanya digunakan untuk menutup luka-luka kecil, hanya saja ini jauh lebih tipis dari plester yang biasa anda temukan di sekitar anda. Layar tipis ini memiliki kemampuan untuk menunjukkan detak jantung dan statistik organ-organ vital lainnya yang terdapat di dalam tubuh.

Penemuan teknologi terbaru ini sengaja dirancang dengan tujuan membantu para pekerja kesehatan (dokter) untuk memonitori kesehatan pasien mereka, tanpa harus bertemu atau bertatap muka secara langsung.

Wow, keren sekali kan? Ada kemungkinan kalau penciptaan alat ini disesuaikan atau didasarkan pada kehidupan realitas masyarakat Jepang yang serba sibuk, yang karena sanking sibuknya sampai mereka tidak sempat untuk memeriksakan kesehatan mereka ke dokter atau rumah sakit.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan disajikan beberapa informasi terkait dengan teknologi tersebut dan bagaimana cara kerjanya. Yah, mana tahu anda tertarik untuk mencobanya. Chek it out!

Alat Rekam Kesehatan Yang Bisa Ditempel di Kulit

Sebuah tim peneliti asal Jepang baru-baru ini dikabarkan berhasil mengembangkan layar kulit ultra tipis dan sangat elastis, yang bisa membantu menunjukkan kesehatan seseorang.

Ultrathin baru dengan tampilan elastis yang pas di kulit ini bisa memperlihatkan bentuk gelombang bergerak dari elektrokardiogram yang direkam oleh sensor elektroda pada kulit.

Elektrokardiogram merupakan tes non-invasif (yang tidak memerlukan sayatan tubuh), yang merekam aktivitas listrik pada jantung. Aktivitas listrik ini berhubungan dengan impuls yang bergerak menuju jantung yang menentukan detak dan irama jantung.

Ilmuwan dari Universitas Tokyo menghasilkan teknologi ini dengan cara memadukan elektroda nanomesh dan susunan LED mikro 16 x 24 inchi, yang dikombinasikan dengan modul komunikasi nirkabel dan sistem sensor biomedis terpadu.

Layarnya hanya memiliki ketebalan sekitar 1 milimeter saja, sehingga bisa menempel dengan baik pada kulit. Meskipun layar tersebut bisa diregangkan, namun ini jauh lebih kuat dan bisa menahan peregangan berulang sekitar 45 persen, tanpa harus kehilangan fungsinya.

Teknologi ini mereka sebut sebagai “kulit elektronik“, yang dapat mengirimkan data biometrik ke cloud  (jaringan komputer).

Penelitian terbaru ini merupakan hasil kolaborasi antara periset di Graduate School of Engineering dan Dai Nippom Printing (DNP), yang dipimpin oleh Profesor Takao Someya di Sekolah Pascasarjana Teknik Universitas Tokyo, yang dijadwalkan akan melakukan sebuah pertemuan dan berbicara di Pertemuan Tahunan AAAS di Austin, Texas.

Tujuan Penciptaan Kulit Elektronik

Berkat kemajuan teknologi semikonduktor, perangkat yang dapat dipakai dengan cara ditempelkan di kulit ini bisa memantau kesehatan, yang dilakukan dengan mengukur tanda vital atau mengambil elektrokardiogram terlebih dahulu dan kemudian mentransmisikan data secara nirkabel ke smartphone.

Pembacaan atau bentuk gelombang elektrokardiogram yang dihasilkan selanjutnya dapat ditampilkan di layar secara real time (nyata), ataupun dikirim ke cloud (komputer) atau perangkat memori tempat penyimpanan informasi.

Sistem elektronik kulit yang baru ini dikembangkan dengan tujuan untuk membuat terobosan baru dan melangkah lebih jauh dengan cara meningkatkan akses informasi bagi orang-orang yang sudah tua atau orang-orang lemah, yang cenderung mengalami kesulitan dalam mengoperasikan dan memperoleh data dari perangkat dan antarmuka yang ada.

Teknologi ini nerupakan alat yang menjanjikan, terutama untuk membantu meringankan ketegangan pada sistem perawatan kesehatan pada masyarakat yang sudah tua atau berumur, melalui pemantauan kesehatan dan perawatan pribadi yang dilakukan secara terus-menerus dan non-invasif di rumah.

Cara Kerja Plester Ultrathin

Alat bantu yang berbentuk seperti sebuah plester tipis ini tidak hanya bisa dipakai untuk memantau kesehatan pemakainya, melainkan juga bisa menerima dan mengirimkan pesan hingga emoji.

Teknologi ini memungkinkan para profesional medis dapat memonitori atau memantau kondisi kesehatan pasien yang tinggal jauh dari mereka. Selain itu, dokter pun bisa berkomunikasi kembali dengan pasien tersebut.

Cara pemakaian alat ini pun tidak sulit. Para penggunanya hanya perlu menempelkannya dan menepuk-nepuknya agar lengket pada bagian punggung atau telapak tangan mereka. Teknologi ini bisa digunakan untuk menyalakan pengingat waktu untuk minum obat.

Tempatkan display pada kulit, sehingga pengguna dapat merasakan layar tersebut sebagai bagian dari tubuhnya sendiri. Bila menerima pesan pun, penerima akan merasakan kedekatan emosional dengan pengirim,” tambah Someya.

Someya melihat penemuan ini bisa sangat berguna karena bisa menggantikan kebutuhan akan pemeriksaan langsung, dengan menawarkan pemantauan non-invasif yang terus-menerus dan bisa dilakukan kapan saja.

Kelebihan Layar Kulit Elektronik

Menurut Someya, tampilan kulit elektronik mereka bisa menampilkan grafik sederhana, yang disertai dengan gerakan, karena terbuat dari bahan tipis dan lembut, sehingga bisa jadi terdeformasi dengan bebas.

Layarnya juga bisa dilipat sebanyak 45 persen dari panjang aslinya. Layar yang digunakan pun juga lebih tahan terhadap keausan peregangan dibanding dengan display wearable yang sebelum-sebelumnya.

Teknologi ini dibangun di atas struktur baru yang bisa meminimalkan tegangan akibat peregangan pada persimpangan bahan keras, seperti LED mikro dan bahan lembut, seperti kabel elastis, yang biasanya menjadi penyebab utama kerusakan pada model lainnya.

Kulit elektronik kali ini merupakan tampilan stretchable pertama yang dapat mencapai daya tahan dan stabilitas  superior di udara, sehingga tidak ada satu piksel pun yang gagal dalam tampilan tipe matriks, saat menempel dengan kencang ke kulit dan terus-menerus mengalami gerakan peregangan dan kontraksi tubuh.

Sensor kulit nanomesh yang disematkan di dalamnya juga bisa dipakai di kulit secara terus menerus selama seminggu tanpa menyebabkan peradangan.

Nanomesh adalah material baru dua dimensi anorganik, yang mirip dengan graphene. Ditemukan pada tahun 2003 di Universitas Zurich, Swiss. Material ini terdiri dari satu lapisan atom boron (B) dan nitrogen (N).

Pada penelitian sebelumnya, sensor ini sudah pernah dikembangkan oleh para peneliti lain dan berhasil menemukan bahwasannya sensor tersebut ternyata bisa digunakan untuk mengukur suhu, tekanan dan myoelectricity (sifat listrik otot).

Namun, penelitian yang terbaru yang dilakukan di Jepang baru-baru ini tak kalah hebat lagi, karena menjadi orang pertama yang mengetahui bahwasannya nanomesh memiliki kemampuan merekam elektrokardiogram dan kemudian memanfaatkannya dalam pembuatan kulit elektronik.

Para periset menerapkan metode coba-dan-benar (tried-and-true), yang digunakan dalam produksi massal elektronika, khususnya, sablon perak dan pemasangan kabel mikro pada lembaran karet dengan chip mounter dan pasta solder, yang biasa digunakan di papan sirkuit cetak manufaktur.

Dengan menerapkan metode ini, kemungkinan akan mempercepat komersialisasi tampilan dan membantu mengurangi biaya produksinya di masa depan.

Jika semuanya berjalan dengan lancar, DNP berenacana ingin menghadirkan tampilan kulit terpadu ini ke pasar dalam kurun waktu sekitar tiga tahun ke depan, dengan meningkatkan keandalan perangkat yang dapat merenggang melalui optimalisasi strukturnya, meningkatkan proses produksi untuk integrasi yang tinggi dan mengatasi tantangan teknis, seperti cakupan area yang luas.

Perangkat ini bisa sangat berguna di Jepang, karena negara ini diperkirakan memiliki populasi orang tua yang jauh lebih besar dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia.

Masyarakat yang sudah menua saat ini membutuhkan sensor yang dapat dipakai pengguna untuk memantau vitalitas pasien, dengan maksud untuk mengurangi beban pada pasien dan anggota keluarga yang memberikan asuhan keperawatan,” kata Someya.

Sistem kami bisa menjadi salah satu solusi yang telah lama ditunggu untuk memenuhi kebutuhan ini, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup banyak orang.” katanya lagi.

Meskipun masih belum dipasarkan secara luas, namun penemuan ini patut mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Tidak hanya mempermudah pasien dan tenaga medis, pemantauan yang bisa dilakukan kapan saja ini juga sangat membantu proses pengobatan dan penyembuhan pasien, terutama untuk pasien lansia.

Itulah sedikit informasi yang bisa kami sampaikan mengenai penemuan teknologi ultrathin yang bisa dipakai di kulit ini. Semoga bisa bermanfaat untuk anda.