Orang Baik vs Orang Cerdas, Manakah Yang Lebih Berpeluang Untuk Sukses?

Orang Baik vs Orang Cerdas, Manakah Yang Lebih Berpeluang Untuk Sukses?

Setiap orang pasti ingin sukses. Tidak ada satu orangpun yang ingin menjadi “pecundang” di dunia ini. Tapi arti kesuksesan untuk masing-masing orang tidaklah sama.

Ada yang mengartikan kesuksesan sebagai kemampuan secara finansial, ada pula yang menganggap bahwa sukses itu berarti berhasil mewujudkan keinginan atau berhasil membahagiakan orang tua dan masih banyak lagi definisi-definisi sukses yang lainnya. Kalau untuk anda sendiri, apa sih arti sukses itu?

Ada yang mengatakan kalau sukses itu berawal dari “mimpi”, benar nggak sih? Untuk sebagian orang, hal tersebut ada benarnya. Buktinya, banyak penemu-penemu yang mengatakan bahwa kesuksesan mereka memang berawal dari mimpi-mimpi gila mereka. Siapa sajakah mereka?

Kisah Orang Sukses Yang Berawal Dari Mimpi dan Cemoohan

1. Orville dan Wilbur Wright

Orville dan Wilbur Wright adalah kakak beradik yang berhasil mendesain dan merancang pesawat terbang efektif pertama dan membuat penerbangan terkendali pertama menggunakan pesawat terbang bermesin yang lebih berat daripada udara.

Awalnya mereka hanyalah mekanik sepeda. Mereka terinspirasi dari burung yang terbang di atas langit. Dari sana mereka kemudian bertanya-tanya kenapa manusia tidak bisa terbang layaknya burung-burung tersebut. Dari pertanyaan itu mereka pun akhirnya berencana untuk membawa manusia terbang.

Mendengar mimpi tersebut banyak orang yang menertawakan mereka dan menganggap mereka sudah tidak waras. Tapi hal tersebut tak meluluhlantakkan mimpi dan niat mereka.

Dengan dibarengi usaha keras dan semangat yang tinggi, mereka pun akhirnya berhasil. Mereka membuktikan bahwa mereka bukan hanya sekedar “pemimpi ulung”, karena dari mimpi tersebut mereka bisa menjadi sukses dan berhasil menciptakan sesuatu yang berguna untuk umat manusia sampai saat ini.

2. Martin Luther King, JR

Siapa sih yang tidak mengenal Martin Luther King, Jr. Hanya mereka yang malas membaca atau yang minim pengetahuan yang tidak mengenal pria yang satu ini.

Sejak dulu Martin memiliki mimpi yang begitu besar. Tahukah anda mimpinya apa? Cukup sederhana tapi memiliki makna yang luar biasa, mimpi Martin saat itu hanyalah mendapatkan hak dan derajat yang sama di Amerika untuk orang-orang kulit hitam, yang saat itu dikucilkan dari orang-orang berkulit putih. 

Pesan dan mimpinya tersebut telah menginspirasi banyak orang untuk menghapus perbedaan tersebut. Secara tidak langsung Ia telah membawa perubahan yang besar terhadap dunia.

3. Adam Khoo

Contoh selanjutnya adalah Adam Khoo. Dia adalah pria berkebangsaan Singapura yang  sukses. Sewaktu kecil dulu, Dia sangat senang bermain games dan menonton TV. Karena hobinya tersebut, Dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam berada di depan TV, baik itu untuk bermain PS atau menonton TV.

Di sekolah, tepatnya saat Ia duduk dibangku kelas 4 SD, Dia dikenal sebagai anak yang sangat bodoh dan pernah dikeluarkan dari sekolah. Dan karena hal tersebut, Dia harus masuk ke sekolah terburuk yang ada di Singapura. Memasuki sekolah menengah, Ia pun ditolak oleh 6 sekolah di sana.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Beranjak dewasa, Dia pun berhasil menjadi seorang pria yang sangat sukses dalam dunia bisnis. Dia memiliki 4 bisnis di Singapura dengan total nilai omset pertahunnya US$ 20 juta. Prestasinya di dunia bisnis justru didapat dari cemoohan teman-teman dan orang-orang disekitarnya, serta penolakan yang diterimanya dulu.

Selain mereka bertiga masih banyak orang-orang sukses lainnya sangat menginspirasi banyak orang di dunia. Tapi mereka saja sudah cukup mewakili mereka semua. Yang perlu anda ketahui sebenarnya tentang siapa orangnya, tapi tentang bagaimana cara mereka bisa mencapai kesuksesan tersebut.

Apakah mereka membeli kesuksesan tersebut?TidakMudahkah jalan mereka untuk mendapatkannya?Tentu Tidak“. Lantas, apa yang anda pikirkan sekarang? Masihkan anda mengharapkan jalan yang lurus untuk menemui kesuksesan tersebut, saat anda tahu bahwa orang sebelum anda telah melewati jalan berkelok dan berduri?

Sikap Seperti Apa Yang Bisa Membuat Kita Sukses?

Kesuksesan adalah sebuah pilihan, “ya benar”. Tapi sayangnya, tak semua orang memilih opsi tersebut. Untuk mencapai kesuksesan, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, maka kita harus menjadi pemain dan tim yang baik.

Di dalam kehidupan sehari-hari terutama di lingkungan kerja, untuk mendapatkan kata sukses membutuhkan usaha yang besar. Bentuk usaha tersebut pun terbagi menjadi 2 (dua), yaitu usaha yang positif dan negatif, Tergantung pada pilihan tiap-tiap orang.

Untuk mendapatkan kesuksesan tersebut, haruskah kita bersikap baik kepada orang lain, atau haruskah kita bertindak dengan niat? Kira-kira, orang seperti apakah yang paling mungkin berhasil dan mendapatkan kesuksesan tersebut?

Anda pasti pernah mengikuti sesi wawancara saat melamar pekerjaan, bukan? Anda pasti pernah mendengar bahwa banyak perusahaan yang saat melakukan wawancara cenderung untuk melihat sesuatu di luar keterampilan para calon karyawannya. Tahukah anda apa tujuannya?

Tujuan mereka melakukannya adalah untuk mencari tahu orang seperti apa calon-calon karyawannya tersebut. Perusahaan harus memastikan apakah orang tersebut cocok dengan kualifikasi dan semangat tim di dalam perusahaam tersebut.

Biasanya, orang-orang yang baik dan ramah saat ditemui dalam wawancara akan meninggalkan kesan pertama yang baik, dengan senyuman terbuka dan ketidaksukaan yang naluriah akan konflik.

Nah, yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah dengan “bersikap baik”, bisa membuat kita mencapai kesuksesan? Dan ternyata ada beberapa kebenaran yang bisa kita temukan di balik kalimat atau gagasan yang mengatakan bahwa, “orang baik selesai terakhir”. 

Setidaknya itulah yang peneliti dari Universitas Bristol di Inggris, University of Minnesota di Minneapolis dan Universitas Heidelberg di Jerman katakan.

“Kami ingin mengeksplorasi faktor apa saja yang bisa membuat kita menjadi makhluk sosial yang efektif. Dengan kata lain, apa yang memungkinkan kita untuk berperilaku secara optimal, di dalam situasi ketika kerjasama berpotensi bermanfaat tidak hanya untuk kita, tetapi juga bagi orang lain, orang-orang di negara yang sama, atau yang berbagi planet yang sama”, jelas Prof Eugenio Proto, salah satu penulis penelitian terbaru yang menanyakan apa yang membuat kita bisa menjadi pemain dan tim yang sukses.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam Journal of Political Economy, Prof. Proto dan rekan-rekannya menjelaskan bahwa kita mungkin membutuhkan lebih dari sekadar sifat dermawan atau baik hati untuk berkembang dalam konteks sosial.

Bersikap Baik vs Berpikir Cerdas Terhadap Sikap Kooperatif

Para ilmuwan telah berulang kali berpendapat bahwa, di dalam konteks sosial bersikap baik adalah hal yang luar biasa dan akan membawa kebaikan. Sedangkan yang sebaliknya, yaitu bersikap tidak baik malah akan mengambil lebih banyak energi emosional dan mengarah pada hasil psikologis dan pragmatis yang buruk.

Akan tetapi, Prof Proto bersama dengan rekannya baru-baru ini membantah pernyataan tersebut didalam sebuah studinya. Menurutnya, pada dasarnya menjadi orang baik tidak akan membatu kita untuk sukses dan berhasil, terutama dalam usaha. Mengapa? Karena, anehnya hal tersebut hanya akan menghalangi kita untuk bersikap kooperatif.

Prof Proto mengatakan, kebanyakan orang secara alami akan menganggap bahwa orang yang baik, teliti dan murah hati secara otomatis adalah orang yang lebih kooperatif. Namun berdasarkan penelitian yang mereka lakukan ditemukan sebuah fakta bahwa kecerdasan merupakan kondisi yang lebih kooperatif dan kohesif secara sosial.

Sebenarnya Dia juga tidak bisa memungkiri kalau hati dan tingkah laku yang baik memiliki efek juga, akan tetapi sifatnya hanya sementara dan dampaknya terhadap sikap kooperatif relatif kecil.

Untuk melihat kualitas utama dari kesuksesan tersebut, para peneliti meminta peserta studi untuk memainkan empat buah pertandingan, dimana masing-masing permainan akan menggambarkan situasi strategis tertentu.

Permainan-permainan ini beberapa di antaranya merupakan pokok teori permainan. Keempat permainan yang akan dimainkan tersebut antara lain: Prisoner’s Dilemma, Stag Hunt, Battle of the Sexes dan permainan yang terakhir oleh para peneliti dinamakan sebagai Sexes with Compromise.

Semua permainan yang disebutkan di atas tadi akan mengeksplor pola kerja sama dan kesuksesan dalam pengambilan keputusan. Di dalam permainan tersebut, interaksi partisipan terjadi berulang-ulang untuk memastikan bahwa individu yang terlibat di dalamnya mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi perilaku dan pilihan para mitra mereka.

Prof Proto dan rekan-rekannya memperhatikan bahwa dalam situasi dimana para peserta harus memutuskan antara keuntungan saat ini atau pencapaian di masa depan yang mungkin lebih berharga, individu dengan IQ yang lebih tinggi cenderung untuk memenangkan lebih banyak uang, rata-rata pada setiap putaran.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam skenario yang menyerukan kerjasama, penting untuk dapat membuat strategi yang tepat, serta secara akurat memprediksi konsekuensi dari pilihan dan tindakan saat itu.

Yang menariknya lagi, para peneliti juga melihat bahwa orang yang lebih teliti ternyata lebih berhati-hati dalam tindakan mereka. Dan yang paling mengejutkannya lagi orang seperti ini diketahui cenderung kurang kooperatif.

Keuntungan Bersikap Pintar atau Cerdas

Prof Proto bersama dengan timnya menjelaskan bahwa dua ciri yang kemungkinan dianggap memainkan peran penting dalam perilaku strategis dan kooperatif adalah terlalu berhati-hati (ketelitian) dan keramahan. Kedua hal ini dapat membantu kita dalam membuat keputusan yang baik.

Agar sifat-sifat seperti itu benar-benar efektif, bagaimanapun, mereka perlu didukung oleh niat strategis, yang bisa didapatkan dengan menjadi pintar dan bisa menilai situasi dengan benar.

Dari hasil studi yang dilakukan tersebut, Prof Proto mengatakan: “manfaat tambahan dari kecerdasan yang lebih tinggi dalam percobaan kami dan kemungkinan juga dalam kehidupan nyata adalah kemampuan untuk memproses informasi yang lebih cepat, sehingga bisa mengumpulkan pengalaman yang lebih luas dan belajar dari pengalaman tersebut.”

Singkatnya, intelijen yang kita miliki akan memastikan kalau anda telah belajar dari kesalahan masa lalu, memilih strategi yang tepat untuk kerja sama dan menerapkannya secara efektif.

Skenario ini dapat diterapkan di tempat kerja, dimana mungkin terdapat orang-orang cerdas yang bisa melihat gambaran yang lebih besar dan bekerja secara kooperatif, pada akhirnya akan dipromosikan dan mendapat imbalan finansial.

Dari hasil studi ini, tim peneliti menyarankan kita untuk mengajari anak-anak agar menjadi pandai dan bisa bertindak atau berperilaku dengan menggunakan kecerdasan. Itulah salah satu cara untuk maju atau sukses jika memang anda menginginkannya. Hal ini pula lah yang akan membuat mereka berkembang dengan baik di masa depan.

Andis Sofianos, yang merupakan salah seorang rekan penulis mengatakan bahwa melalui pendidikan, fokus kecerdasan pada anak usia dini berpotensi tidak hanya meningkatkan keberhasilan ekonomi individu itu sendiri, tapi juga tingkat kerjasama dalam masyarakat di kemudian hari.

Selasai sudah penjelasan kami kali kali ini. Tapi sebelum kami mengakhiri artikel ini, adapun kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa antara bersikap baik dan cerdas, ternyata yang berpotensi untuk membawa kita ke gerbang kesuksesan secara pribadi dan kelompok adalah bersikap cerdas. Apakah anda salah satunya?