Simpang Siur, Penyebab Deja Vu Masih Menjadi Sebuah Misteri

Ketika menonton film bergenre horror, anda pasti pernah kan melihat sebuah adegan dimana salah satu pemainnya sedang tidur dan bermimpi tentang sebuah kejadian yang membuatnya tersentak bangun.

Ketika terbangun, ternyata apa yang terjadi di dalam mimpinya tersebut benar-benar terjadi dan benar-benar dialaminya. Peristiwa inilah yang dinamakan sebagai déjà vu.

Apakah anda juga pernah mengalami déjà vu? Pengalaman semacam apa yang anda dapatkan pada saat dan setelah mengalami mimpi tersebut? Menyenangkan kah? Atau malah menakutkan? Masing-masing kita pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda dengan deja vu.

Kali ini kami akan memberikan infomasi mengenai de javu, yaitu “mengalami pengalaman yang belum dialami”, yang kerap disandingkan dengan hal-hal yang bersifat mistik.

Apa Itu Deja Vu?

Secara harfiah, déjà vu dalam bahasa Perancis memiliki arti “sudah terlihat”. Mereka yang pernah mengalami pengalaman ini akan menggambarkannya sebagai rasa familiaritas yang luar biasa terhadap sesuatu yang sudah tak terasa asing sama sekali untuk mereka.

Kondisi ini bisa kita coba gambarkan seperti ketika anda yang sedang bepergian atau liburan ke Inggris untuk yang pertama kalinya. Saat itu anda tengah berjalan-jalan atau melakukan tur ke katedral, tapi tiba-tiba ada perasaan dimana sepertinya anda sudah pernah berada di tempat itu sebelumnya.

Atau bisa juga terjadi pada saat anda sedang makan malam bersama teman anda, mendiskusikan beberapa topik dan melakukan aktivitas lain.

Saat semua aktivitas itu berlangsung, anda merasa kalau anda sudah pernah mengalami atau melakukan kegiatan tersebut sebelumnya, dengan teman, tempat makan dan topik yang sama. Aneh sekali, bukan? Fenomena ini cukup rumit untuk dijelaskan dan ada banyak teori yang berbeda mengenai alasan déjà vu terjadi.

Seorang sarjana Swiss bernama Arthur Funkhouser mengemukakan bahwa ada beberapa “pengalaman déjà” dan menegaskan bahwa untuk mempelajari fenomena ini dengan lebih baik, nuansa dari pengalaman tersebut perlu dicatat.

Karakteristik Orang Yang Mudah Mengalami Deja vu

Berdasarkan laporan yang ada, sebanyak 70 persen populasi pernah mengalami déjà vu. Jumlah insiden yang lebih tinggi terjadi pada orang yang berusia pada kisaran 15 sampai 25 tahun daripada kelompok usia lainnya. Konon katanya seiring dengan bertambahnya usia, seseorang akan semakin jarang mengalaminya.

Untuk gender atau jenis kelamin, kondisi ini tidak membeda-bedakan. Baik itu wanita ataupun pria, keduanya memiliki kemungkinan yang sama besar.

Selain itu, jika dilihat dari kehidupan sosialnya, beberapa penelitian menunjukkan kalau deja vu lebih umum terjadi pada orang-orang dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi dan individu yang berpendidikan tinggi.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan sebuah fakta bahwa sebanyak11 persen orang yang tidak pernah bepergian yang akan mengalami deja vu, dibandingkan dengan 41 persen dari mereka yang melakukan satu sampai empat kali perjalanan setiap tahunnya dan 44 persen dari mereka yang bepergian 5 kali atau lebih dalam setahun.

Dengan kata lin bisa diambil kesimpulan kalau orang yang sering bepergian akan lebih cenderung mengalami kondisi tersebut dibandingkan dengan mereka yang jarang atau bahkan tidak pernah bepergian.

Sama halnya seperti ‘kerasukan’, penelitian lain juga telah menunjukkan bahwa déjà vu lebih sering terjadi ketika seseorang sedang berada pada kondisi yang sangat lelah, stres, atau mungkin saja keduanya.

Tak hanya faktor-faktor internal, ada juga faktor eksternal yang bisa menyebabkan seseorang mengalami deja vu, yaitu salah satunya pengkonsumsian obat-obatan tertentu. Mengkonsumsi obat tertentu diketahui juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami déjà vu.

Sebuah studi kasus yang diterbitkan pada tahun 2001 menceritakan pengalaman seorang pria sehat berusia 39 tahun yang mengalami deja vu berulang-ulang kali saat mengkonsumsi amantadine dan phenylpropanolamine untuk mengobati flu yang menyerangnya.

So, dari beberapa karakteristik yang telah dijelaskan di atas, apakah anda termasuk ke dalam salah satunya? Seberapa seringkah anda mengalami kondisi ini? Sudahkah anda mencari penyebabnya? Jika belum, anda bisa membaca artikel ini. Ya, mana tahu anda menemukan jawaban yang anda inginkan di sini.

Benarkah Deja Vu Bisa Memrediksi Masa Depan?

Karena menyimpan banyak tanda tanya, beberapa peneliti telah menaruh minat mereka pada fenomena ini. Seorang peneliti yang bernama Anne Cleary dari Colorado State University di Fort Collins juga memiliki pengalaman dengan deja vu.

Selama beberapa tahun terakhir ini dia telah memberikan perhatian khususnya pada fenomena ini dan baru-baru ini telah memperpanjang proyeknya untuk menjawab pertanyaan apakah firasat yang sering dikaitkan dengan déjà vu ini memiliki dasar atau tidak.

Di dalam penelitian terbaru mereka, Cleary dan Cox menginduksi pengalaman déjà vu pada peserta studi untuk menguji co-occurrence dari perasaan firasat yang terjadi dan untuk melihat apakah perasaan tersebut konsisten dengan situasi aktual atau sebenarnya.

Dengan kata lain, para peneliti ingin melihat apakah orang-orang yang memiliki pengalaman déjà vu benar-benar bisa memprediksi apa yang akan terjadi selanjutnya, atau apakah sensasi itu hanyalah sebuah tipuan pikiran belaka. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Cleary menggunakan strategi yang berhasil dia uji dalam sebuah penelitian sebelumnya.

Pada tahun 2012, dia berpendapat bahwa perasaan mengalami yang “sudah terlihat (deja vu)” adalah sebuah fenomena yang berhubungan dengan ingatan, sama seperti ketika kita memiliki kata “di ujung lidah kita” tentang apa yang terjadi, namun ketika dicoba, kita tidak dapat mengingatnya, padahal saat hal tersebut benar-benar terjadi di dunia nyata, kita sadar kalau kita mengetahuinya.

Cleary menemukan bahwa ketika kita mengalami déjà vu, itu bisa dikarenakan konteksnya mengingatkan kita pada sesuatu yang telah kita lihat atau alami dalam kehidupan nyata tapi sayangnya tidak bisa kita ingat lagi dengan benar.

Itulah sebabnya mengapa kita memiliki firasat atau perasaan bahwa kita sudah pernah berada di suatu tempat yang padahal kita baru pertama kali pergi ke sana. 

Cleary mengatakan bahwa kita mungkin saja tidak bisa mengingat secara sadar dan rinci adegan atau kejadian yang telah kita jalani sebelumnya, tapi otak kita bisa mengenali kesamaannya.

Informasi itu muncul sebagai perasaan meresahkan yang pernah kita hadapi sebelumnya, tapi kita tidak bisa menentukan kapan atau mengapa demikian.

Baik itu déjà vu ataupun “tip of the tongue”, keduanya ​​dikenal sebagai fenomena “metamemory”, yaitu kemampuan untuk mengontrol memori ketika kita tahu bahwa kita ingat pada suatu hal, atau bahwa kita harus mengingat sesuatu.

Adakah Hubungan Antara Deja Vu Dengan Gangguan Mental?

Mungkin mengejutkan, namun déjà vu tampaknya tidak berkorelasi dengan gangguan mental tertentu. Satu-satunya kondisi yang sering dikaitkan dengan pengalaman ini adalah temporal lobe epilepsy (TLE).

Jika dilihat dari gambaran struktur otak kita, maka bagian yang berperan penting untuk menimbulkan kondisi deja vu adalah bagian lobus temporal (bagian berwarna kuning), yang terlihat pada gambar berikut ini:

Dalam bentuk epilepsi khusus ini, sebenarnya sama saja seperti jenis lainnya, seringkali didahului dengan kondisi “aura” (gejala awal) sebelum mengalami kejang. Bagi beberapa orang yang menderita TLE (Temporal Lobe Epilepsy), aura yang muncul adalah mencakup déjà vu.

Lobus temporal, yang terlibat dalam ingatan visual dan pemrosesan masukan sensorik, tampaknya merupakan dugaan utama tempat déjà vu berasal.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2012 yang lalu menemukan bahwa ketika korteks entorhinal (EC) dirangsang bisa menghasilkan pengalaman seperti déjà vu. EC (Entorhinal Cortices) yang terletak di lobus temporal medial, berperan dalam memori spasial dan konsolidasi memori.

Déjà vu telah dikaitkan dengan epilepsi temporal-lobus. Kabarnya, déjà vu bisa terjadi sesaat sebelum kejang temporal-lobe. Orang yang menderita kejang jenis ini dapat mengalami déjà vu selama aktivitas kejang yang sebenarnya atau pada saat-saat di antara kejang-kejang.

Karena deja vu yang terjadi pada individu yang sehat, maka banyak spekulasi yang bermunculan mengenai bagaimana dan mengapa fenomena ini bisa terjadi.

Beberapa psikoanalis mengaitkan déjà vu dengan pemenuhan fantasi atau keinginan sederhana, sementara beberapa psikiater memasukkannya ke dalam ketidakcocokan yang terjadi di otak yang menyebabkan otak melakukan kesalahan.

Akan tetapi banyak juga parapsikolog yang percaya kalau deja vu memiliki kaitan dengan pengalaman masa lalu. Dari sekian banyaknya persepsi yang muncul, belum juga bisa dipastikan mana sesungguhnya jawaban yang paling tepat untuk pertanyaan tersebut, karena masih dibutuhkan penelitian yang lebih jauh lagi.

Secara umum, teori déjà vu masuk dalam empat kategori, yaitu:

  • Pemrosesan ganda
  • Neurologis
  • Memory (Ingatan)
  • Attentional (Perhatian)

Namun sayagnya, tak satupun dari kategori di atas yang bisa memberikan jawaban mengapa deja vu bisa terjadi. Itulah sebabnya mengapa masih banyak yang menganggap Deja Vu sebagai sebuah misteri.

Namun masing-masing kategori tersebut bisa memberikan sebuah kesempatan untuk bersenang-senang di dalam sebuah pengalaman yang unik.

Wuah… seru sih, tapi agak sedikit menyeramkan kalau dipikir-pikir. Iya nggak? Bayangkan gimana kalau ternyata pengalaman deja vu yang anda alami ternyata bukan pengalaman yang menyenangkan, pasti seram bukan? Tapi ya sudahlah. Semoga saja anda semua tidak sampai mengalami pengalaman deja vu yang seram-seram.

Baiklah, selsesai sudah informasi yang kami sampaikan mengenai peristiwa deja vu yang hampir pernah dialami oleh semua orang termasuk anda ini, kesimpulan yang bisa kita ambil dari penjelasan tadi adalah:

  • Deja Vu merupakan sebuah fenomena unik, dimana anda akan merasa familiar dengan sebuah kondisi di sekitar anda, seolah-olah anda sudah pernah mengalami hal tersebut dengan keadaan yang persis sama, padahal apa yang sedang anda alami saat itu adalah pengalaman pertama anda.
  • Deja Vu bukanlah kondisi yang tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena menurut penelitian, sebagian besar orang pasti mengalaminya. Bahkan ada yang sampai berkali-kali.
  • Deja Vu bukanlah sebuah gangguan kesehatan, apalagi gangguan mental.
  • Dan untuk pertanyaan apakah kondisi ini bisa memperediksi masa depan atau tidak, jawabannya masih akan terus diteliti.

Itulah beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil dari penjelasan di atas. Apakah anda punya kesimpulan yang lain dari ini?