Hanya Karena Memakan Jenis Cabe Ini, Seorang Pria Harus Dirawat di Ruang UGD

Hanya Karena Memakan Jenis Cabe Ini, Seorang Pria Harus Dirawat di Ruang UGD

Sebuah studi terbaru yang telah dipublikasikan di dalam jurnal BMJ Case Report meneliti tentang “penyebab sakit kepala tak terduga” yang luar biasa, yang dialami oleh seorang pria yang diketahui telah memakan cabai terpedas di dunia. Cabai ini bernama The Carolina Reaper.

Tak seindah namanya, cabai carolina ini ternyata sangat berbahaya untuk dikonsumsi. Bagi anda para pecinta kuliner pedas, sepertinya anda harus menghindari cabai jenis yang satu ini, jika anda tidak mau mendapatkan masalah kesehatan yang serius.

Sebuah penelitian yang telah dilaksanakan baru-baru berhasil mendokumentasikan sebuah kasus sakit kepala yang tidak biasa, yang dikenal sebagai “sakit kepala thunderclap” atau “Thunderclap Headache“, yaitu bentuk sakit kepala yang parah dan bisa dibilang cukup berbahaya, yang tampaknya dipicu oleh pengkonsumsian terhadap jenis cabe Carolina Reaper.

Penulis pertama makalah penelitian ini adalah Dr. Satish Kumar Boddhula, dari Bassett Medical Center, di Cooperstown, New York.

Caroline Reaper Sebagai Penyebab Penyempitan Arteri

Dr Boddhula dan rekannya melaporkan bahwa seorang pria sehat berusia 34 tahun terpaksa harus masuk ke ruang gawat darurat, karena episode sakit kepala thunderclap yang dialaminya sesaat setelah dia memakan satu buah cabai Carolina Reaper dalam sebuah kontes makan cabai.

Ketika pasien tiba di rumah sakit, dokter belum bisa memastikan apa yang menjadi penyebab sakit kepala tersebut. Dokter melihat kalau pria itu tidak mengalami defisit neurologis seperti bicara cadel, kelemahan otot atau kehilangan penglihatan yang mengindikasikan stroke.

Gejala-gejala yang ditunjukkan oleh pria tersebut adalah termasuk dry heaves (masalah pernafasan) tanpa disertai dengan keinginan untuk muntah, tapi diikuti oleh rasa sakit yang hebat di bagian leher dan daerah lobus oksipital otak.

Selama beberapa hari berikutnya, pria itu terus saja mengalami sakit kepala yang hebat, yang memang hanya berlangsung dalam beberapa detik saja, tetapi luar biasa menyakitkan.

Penyebab paling umum dari sakit kepala thunderclap yang dialaminya ini adalah pendarahan subarachnoid, yaitu perdarahan mendadak yang terjadi pada celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak.

Pendarahan ini biasanya berasal dari robekan tonjolan abnormal dalam pembuluh darah otak (pembengkakan pada dinding arteri otak) yang bisa berakibat fatal. Cara terbaik untuk mendiagnosis kondisi ini adalah dengan melakukan CT scan otak (computed tomography).

Namun, dalam kasus ini, CT angiografi (pemeriksaan radiologi invasif minimal dengan memasukan media kontras melalui pembuluh darah vena, dengan tujuan untuk melihat pembuluh darah pada tubuh dengan menggunakan modaliti ct scan) tidak mengungkapkan adanya aneurisma (pelebaran pembuluh darah abnormal terlokalisasi disebabkan oleh melemahnya dinding pembuh darah).

Sebaliknya, pemindaian yang dilakukan oleh tenaga medis tersebut malah menemukan adanya arteri-arteri yang menyempit pada bagian otak pasien.

Pada gambar di bawah ini anda bisa melihat contoh gambar penyempitan pembuluh darah tersebut:

note: CT Angiografi di atas menunjukkan penyempitan pembuluh darah di otak sesaat setelah timbulnya gejala (gambar sebelah kiri). Setelah resolusi 5 minggu dilakukan, maka terlihatlah perubahannya (gambar sebelah kanan).

Oleh karena itu, dokter pun akhirnya mendiagnosa pria tersebut dengan penyakit “sakit kepala thunderclap sekunder untuk sindrom vasokonstriksi serebral reversibel (RCVS)”, yang kemungkinan disebabkan oleh cabai yang dikonsumsinya.

RCVS ini lah yang menyebabkan penyempitan arteri, dimana efek yang timbul sering diikuti oleh sakit kepala thunderclap intens dan biasanya akan hilang dalam beberapa hari atau minggu.

Seperti yang dijelaskan oleh beberapa dokter, baik yang terlibat ataupun yang tidak dalam kasus ini, sebenarnya banyak kasus RCVS yang tidak memiliki penyebab yang jelas,.

Tetapi hal ini seringkali dikaitkan dengan pengkonsumsian sejumlah obat-obatan tertentu seperti ergotamine atau triptans dan juga obat-obatan terlarang, seperti kokain dan amfetamin, yang dengan demikian berarti bukan hanya karena mengkonsumsi cabai saja seseorang bisa terkena RCVS tersebut.

Untuk seseorang yang mengalami kasus yang terbilang parah terkait dengan masalah atau kondisi RCVS ini memiliki kemungkinan yang lumayan besar untuk meninggal.

“Sebagian pasien akan memiliki kondisi yang parah yang diikuti dengan stroke dan mereka dapat mengalami perdarahan intrakranial dari stroke iskemik,” kata Ducros.

“Tapi angka kematiannya rendah, hanya sekitar 2% saja dan kebanyakan pasien yang meninggal akibat RCVS adalah wanita muda dan sering di negara bagian postpartum (masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan).

“Tetapi kebanyakan dari mereka berhasil melaluinya dengan baik, yang hanya ditandai dengan sakit kepala berulang dan kemudian mereka memiliki pemulihan total setelah mendapatkan penanganan,” tambahnya.

Untungnya, dalam kasus ini, pria itu bisa segera pulih dan gejalanya hilang dengan sendirinya setelah 5 minggu. CT scan yang dilakukan kini telah menunjukkan kondisi arteri dalam keadaan yang normal.

Ini adalah pertama kalinya ada kasus makan cabai merah yang dikaitkan dengan RCVS. Sebelumnya para peneliti juga sempat menghimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi cabai rawit, yang sering kali dikaitkan dengan penyempitan arteri koroner dan serangan jantung.

Karena alasan tersebut, para penulis pun menyimpulkan, bahwa “RCVS harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding pada pasien yang datang dengan sakit kepala thunderclap setelah mengkonsumsi cabe rawit, yang merupakan zat vasoaktif.”

“RCVS harus dianggap sebagai penyebab potensial sakit kepala thunderclap setelah sebagian besar penyebab umum dikesampingkan, termasuk pendarahan subarachnoid,” para dokter menambahkan.

Mengenal Cabai Carolina Reaper

Apa yang terjadi pada seorang kontestan dalam kontes makan cabe yang telah kami sebutkan di atas tadi mungkin bisa menjadi satu alasan, yang akan membuat anda para penggemar makanan pedas untuk sedikit merasa takut pada jenis cabe reaper ini.

Dan kami harap, anda bisa lebih mempertimbangkan untuk mengikuti kontes-kontes semacam itu, karena bisa membahayakan kesehatan anda. Apalagi yang melibatkan Carolina Reaper di dalamnya.

Untuk anda yang mungkin belum mengenal jenis cabai yang sangat pedas ini dan tertarik untuk mengenalnya, anda cukup beruntung karena menemukan artikel kami ini.

Kali ini kami akan sedikit mengulas tentang keberadaan jenis cabai yang bernama Carolina Reaper yang beberapa waktu yang lalu telah menyebabkan seseorang mengalami pengalaman yang sangat buruk.

Carolina Reaper yang pada awalnya memiliki sebutan HP22B (Higher Power, Pot No. 22, Plant B) ini merupakan tanaman kultivar yang berasal dari spesies Capsicum chinense. Sebelumnya, cabai jenis ini sudah diuji coba tingkat kepedasannya oleh Winthrop University dalam kelas uji coba makanan.

Cabai tersebut berwarna merah cerah, berbonggol dan memiliki bentuk bulat dengan tekstur yang mirip seperti cabai keriting, dengan ekor kecil runcing, yang menyerupai bentuk buntut kalajengking, sehingga memberi kesan bahwa cabai ini sangat menyengat.

Pada tahun 2013 lalu, Guinness World Records menobatkannya sebagai cabai terpedas di dunia, yang berhasil mengalahkan pemegang rekor sebelumnya, yaitu Trinidad Scorpion “Butch T”.

Panas sensorik atau kepedasan yang terdeteksi saat mengkonsumsi Carolina Reaper ini berasal dari kepadatan capsaicinoids, terutama capsaicin (adalah komponen aktif cabai, yang merupakan tanaman milik genus Capsicum), yang berhubungan langsung dengan intensitas panas cabai dan skala Scoville.

Zat kimia inilah yang diduga bertanggung jawab untuk menciptakan rasa pedas pada makanan tertentu. Substansi ini bahkan diketahui dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah di beberapa bagian tubuh, sekalipun digunakan pada konsentrasi rendah pada beberapa obat topikal.

Sebuah studi tahun 2012 pernah mendokumentasikan seorang pria berusia 25 tahun yang mengalami serangan jantung dan vasospasme koroner setelah mengkonsumsi pil cabe rawit, yang juga mengandung sejumlah besar capsaicin dengan tujuan untuk menurunkan berat badan.

Cabai Carolina yang super duper pedas ini dikembangkan di Rock Hill, tepatnya di rumah kaca Carolina Selatan oleh Ed Currie, pemilik Perusahaan perkebunan PuckerButt Pepper di Fort Mill.

Untuk dapat tumbuh dengan baik, seorang ahli etnobotani Inggris bernama James Wong, mengatakan bahwa cabai ini memerlukan suhu setidaknya 18-20 ° C (64-68 ° F) dan menyarankan tumbuh dalam pot 30-40 cm (12–16 inci) untuk membatasi pertumbuhan dan menghasilkan buah yang lebih cepat.

Dari hasil pengukuran, ternyata Carolina Reaper mendapatkan 1.569.300 Scoville Heat Unit. Angka ini lebih besar dbandingkan dengan jalapeno yang hanya sekitar 5.000 Scoville Heat Unit.

Tingkat kepedasan Carolina Reaper disebut-sebut setara dengan pedasnya 2,2 juta cabai merah biasa dan 400 kali lebih pedas dari paprika jalapeño, yang rata-rata 3.500 hingga 8.000 pada skala Scoville,

Di tahun 2016 lalu, Greg Foster dari Irvine, California diketahui berhasil memegang Guiness World Record untuk makan Carolina Reaper. Dia mencapai prestasi ini dengan mengkonsumsi 120 gram cabai dalam kurun waktu 60 detik di Arizona Hot Sauce Expo pada November 2016.

Pada Mei 2017, Mike Smith dari St Asaph yang bekerja dengan Nottingham Trent University mengklaim telah melampaui Carolina Reaper dengan cabai Dragon’s Breath, yang dilaporkan memiliki tingkat kepedasan 2,4 juta SHU (Scoville Heat Unit) dan telah diterapkan pada Guinness World Records untuk konfirmasi.

Tak sampai di situ, pada September 2017, cabai paling terkenal yang dikenal dengan sebutan Pepper X, diketahui memiliki skala Scoville yang dilaporkan sebesar 3,18 juta unit.

Namun baru-baru ini, tepat pada bulan April 2018, sebuah kabar mengejutkan datang dari seorang pria 34 tahun yang diketahui mengalami serangkaian sakit kepala yang intens setelah mengkonsumsi Carolina Reaper selama kontes di New York.

Dia kemudian dirawat di rumah sakit dan didiagnosis dengan sindrom vasokonstriksi serebral reversibel. Namun dalam hal ini, untungnya gejala pasien membaik dan dia dibebaskan dari rumah sakit setelah beberapa hari.

Kasus yang dialami oleh pria ini setidaknya bisa memberikan sedikit pelajaran untuk anda yang sangat suka mengkonsumsi makanan-makanan pedas, terutama mengkonsumsi cabai-cabaian.

Kalau bisa, hindarilah mengkonsumsi cabai dalam jumlah yang terlalu banyak, khususnya cabai dengan jenis tertentu seperti Carolina Reaper ini misalnya.

Memakan makanan yang memiliki kandungan cabai yang sangat pedas tak hanya akan menimbulkan masalah yang buruk untuk sistem pencernaan anda, melainkan juga dapat menyebabkan resiko lain yang jauh lebih berbahaya, seperti yang dialami oleh pria dalam kontes cabe yang telah kami ceritakan di atas tadi.