Ilmuwan Ciptakan Mesin Untuk Membaca Pikiran Manusia, Kabar Baik atau Buruk Ya?

Tampaknya kehidupan privasi manusia yang ada di dunia saat ini mulai ‘terancam’. Dikatakan terancam, karena menurut informasi yang kami terima, Ilmuwan Jepang telah berhasil menciptakan sebuah mesin yang menyeramkan atau tepatnya sebuah kecerdasan buatan, yang diklaim bisa membaca pikiran anda.

Coba bayangkan apa jadinya jika pikiran anda bisa dibaca oleh orang lain, apa yang anda rasakan? Nyamankah anda jika semua orang tahu apa yang anda pikirkan? Tidak bukan? Jangankan pikiran, ‘chat’ atau ‘pesan’ pribadi kita saja kalau dibaca oleh orang lain pasti risih rasanya.

Tapi sejauh ini, mesin pembaca pikiran tersebut memang masih belum dipatenkan. Ada kemungkinan kalau mesin yang bisa mengintip pikiran ini nantinya akan menimbulkan kontroversi, sama seperti Kecerdasan Buatan yang bisa mengidentifikasi wajah homoseksual, yang dibuat sebelumnya.

Hmm, jadi penasarankan dengan penemuan luar biasa yang satu ini? Pengen tahu kan seberapa akurat hasil pembacaan pikiran yang dilakukan oleh mesin tersebut? Yuk, capcus ke penjelasan berikut ini.

Penciptaan AI Yang Bisa Membaca Pikiran

Bukan sulap, bukan sihir, membaca pikiran kini bukan lagi sekedar trik yang sering ditampilkan oleh para pesulap dan tidak hanya ada di dalam sejumlah film fiksi saja.

Tahu kenapa? Karena para ilmuwan sudah bisa mewujudkannya dengan penggunaan sebuah mesin kecerdasan buatan. Mesin pembaca pikiran ini bisa mengetahui apa saja yang ada di dalam pikiran anda dengan tingkat akurasi yang luar biasa. Para ilmuwan ini menggunakan pemindai fMRI yang mendeteksi perubahan arus darah di otak.

AI tersebut mempelajari sinyal listrik di otak, untuk menentukan gambaran apa saja yang sedang dilihat oleh seseorang dan bahkan yang sedang dipikirkannya.

Kehadiran teknologi ini secara tidak langsung membuka pintu bagi skenario masa depan yang aneh, seperti yang digambarkan dalam serial ‘Black Mirror’, dimana setiap orang di dalam film tersebut dapat merekam dan memutar ulang ingatan mereka.

Temuan ini dibuat oleh para periset dari Laboratorium Kamitani di Universitas Kyoto, yang dipimpin oleh Profesor Yukiyasu Kamitani. Para periset ini menggunakan jaringan syaraf tiruan untuk membuat gambar berdasarkan informasi yang diambil dari pemindaian fMRI.

Bagaimana Cara Kerja AI Ketika Sedang Membaca Pikiran Seseorang?

Untuk menguji cara kerjanya, periset membutuhkan bantuan dari para relawan. Relawan tersebut kemudian diminta untuk melihat beberapa gambar objek, seperti angsa, pesawat terbang atau jendela kaca patri.

Sinyal yang berasal dari pemindai kemudian dimasukkan ke dalam jaringan syaraf tiruan (AI), yaitu sebuah sistem komputer yang meniru bagaimana pikiran manusia bekerja dan mampu belajar serta kemampuan dalam memecahkan masalah.

Jaringan tersebut belajar untuk mengenali gambar dan kemudian menggunakan sinyal dari otak para sukarelawan untuk merekonstruksi apa yang mereka pikirkan.

Sistem tersebut juga bisa dilatih untuk mengenali berbagai pola informasi, termasuk pidato, data teks, atau gambar visual, dan sekaligus dasar untuk sejumlah besar perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir.

Mereka belajar dengan menggunakan bantuan masukan dari dunia digital, dengan aplikasi pembelajaran seperti layanan terjemahan bahasa Google, perangkat lunak pengenal wajah Facebook dan filter gambar Snapchat.

Sistem atau kecerdasan buatan yang diciptakan oleh tim peneliti Kyoto ini dilatih menggunakan 50 gambar alami dan disesuaikan dengan hasil fMRI yang dilihat oleh relawan tersebut.

Dan ketika diuji, sistem atau jaringan ini ternyata mampu menciptakan kembali gambar yang dilihat oleh para sukarelawan. Mesin tersebut bisa merekonstruksi burung hantu, pesawat terbang, jendela kaca patri dan gambar lainnya setelah 3 orang relawan dalam penelitian menatap gambar-gambar itu.

Mereka kemudian menggunakan AI tipe kedua yang disebut sebagai jaringan generatif dalam, yang berfungsi untuk memeriksa apakah gambar-gambar tersebut itu tampak seperti gambar asli, kemudian menyempurnakannya untuk membuatnya lebih bisa dikenali.

Proses pembacaan pikiran oleh kecerdasan buatan ini juga menghasilkan beberapa gambar benda termasuk kotak, salib, ikan mas, angsa, macan tutul dan bola bowling yang dibayangkan para peserta.

Meski akurasi kebenarannya bervariasi dari satu orang ke orang yang lainnya, namun menurut Kyoto terobosan tersebut bisa dibilang telah membuka ‘jendela unik ke dalam dunia internal’.

Dengan akurasi yang luar biasa yang dihasilkan, warna dan bentuk gambar yang dihasilkan sangat sesuai dengan foto yang dilihat oleh para relawan saat berada di pemindai.

Bukan hanya itu, mesin itu juga mampu merekonstruksi simbol dan huruf, menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tersebut benar-benar dapat melihat apa yang dilihat oleh orang-orang dan tidak asal menebaknya saja.

Tujuan Pembuatan Mesin Pembaca Pikiran

Tak ada satu penemuan pun di dunia ini yang tidak memiliki tujuan. Untuk apa coba para periset itu capek-capek melakukan sejumlah penelitian untuk menghasilkan sesuatu jika tidak didasari oleh tujuan-tujuan tertentu. Betul nggak?

Hal yang sama juga berlaku untuk penemuan yang berhasil mereka ciptakan kali ini. Pasti mereka memiliki tujuan tertentu untuk hal tersebut, yang kemungkinan besar hanya mereka yang mengetahuinya.

Teknik ini secara teoritis dapat digunakan untuk membuat rekaman lamunan, kenangan dan citra mental lainnya. Mesin ini juga bisa membantu pasien yang memiliki masalah atau gangguan vegetatif state yang permanen, sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan orang yang mereka cintai.

Vegetatif State sendiri merupakan sebuah kelainan kesadaran, dimana pasien dengan kerusakan otak serius berada dalam kondisi sadar secara parsial, namun tidak menunjukan persepsi dan reaksi kognitif terhadap rangsangan yang ada di sekitarnya. Vegetatif di sini memiliki makna tidak aktif secara fisik.

Di dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal online BioRxiv, para ilmuwan mengatakan: Di sini, kami menyajikan metode rekonstruksi citra baru, dimana nilai piksel sebuah gambar dioptimalkan untuk membuat fitur Deep Neural Network-nya serupa dengan yang diterjemahkan dari aktivitas otak manusia.

Di dalam jurnal tersebut juga dikatakan kalau mereka menemukan bahwa gambar yang dihasilkan menyerupai gambar stimulus (baik gambar alami maupun bentuk buatan) dan konten visual subjektif selama pencitraan.

Meskipun model mesin atau kecerdasan yang mereka ciptakan hanya dilatih dengan gambar alami, namun metode tersebut dikatakan berhasil meng-generalisasi rekonstruksi menjadi bentuk buatan, yang mengindikasikan bahwa model itu memang ‘merekonstruksi’ atau ‘menghasilkan’ gambar dari aktivitas otak, tidak hanya cocok dengan contoh.

Terobosan ini sangat bergantung pada jaringan syaraf tiruan, yang mencoba mensimulasikan cara kerja otak agar bisa belajar.

Geraint Rees, yang merupakan salah seorang ahli neuroimaging di University College London, mengatakan bahwa studi tersebut menandai kemajuan besar dalam teknologi ini. Dia mengatakan bahwa dirinya terkesan dengan cara AI belajar membaca huruf alfabet tersebut.

“Temuan ini adalah perbaikan yang signifikan pada penemuan mereka yang sebelumnya”, katanya

Pakar komputer tahun lalu juga pernah menciptakan “Mesin Mimpi Buruk” yang secara spontan menghasilkan gambar yang mengerikan.

Nissan Manfaatkan AI Pembaca Pikiran

Teknologi ini mungkin belum begitu sempurna, namun tidak bisa dipungkiri kalau penemuan tersebut menjadi fondasi untuk integrasi gelombang otak yang lebih besar dan lebih dalam, dengan memanfaatkan kecerdasan buatan.

Jika penelitian baru-baru ini kebanyakan lebih menonjolkan sisi teknologi yang lebih canggih, perusahaan konsumen seperti Nissan maju selangkah karena sudah menerapkan teknologi tersebut.

Pada konferensi CES 2018 yang berlangsung di Las Vegas, Nissan memamerkan sebuah teknologi yang memanfaatkan sinyal otak, yang difungsikan untuk mengendalikan kendaraan.

Terungkap sebagai teknologi “brain-to-vehicle“, Nissan saat ini membangun perangkat dan algoritma untuk mengukur aktivitas otak manusia dan selanjutnya menerjemahkannya ke dalam fungsi kendaraan.

Kemungkinan besar ini merupakan saat yang tepat untuk meninjau ulang teori antarmuka antar otak dan komputer. Sebenarnya, Elon Musk juga diketahui sedang mengerjakan versi teknologi yang sama dan pastinya sangat canggih.

Jika di flashback kembali ke bulan Juni tahun lalu, Tim Urban of Wait But Why mengklaim bahwa Musk sedang bekerja untuk menggabungkan otak manusia dan AI untuk menangani AI yang berteknologi tinggi.

Musk percaya bahwa solusi untuk mengurangi risiko eksistensial adalah dengan melakukan bandwidth dengan AI. Dia berpikir bahwa jika kita bisa berpikir seperti AI, ada kemungkinan jika AI nantinya bisa difungsikan sebagai lapisan ketiga di otak. Jadi dengan kata lain bisa dikatakan kalau kita memiliki kecerdasan manusia dan juga kecerdasan buatan.

Keren, ya pasti. Beresiko? Ada kemungkinan. Segala sesuatu pasti punya pro dan kontra. Tidak semua orang memiliki pikiran dan pendapat yang sama, termasuk untuk penemuan kecerdasan buatan yang bisa membaca pikiran ini.

Lantas, kita harus bagaimana? Sebagai orang atau masyarakat biasa, kita hanya bisa melihat dan menunggu saja perkembangan selanjutnya.

Selagi menunggu, kita juga bisa sambil berharap apapun yang akan terjadi dikedepannya nanti, semoga saja manusia bisa memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan sebaik dan sebijak-bijaknya.

Demikianlah informasi ini kami sampaikan, semoga bisa memberikan ataupun menambah wawasan untuk anda sekalian. Selamat beraktivitas kembali. 🙂