Menurut Survey, Pria Yang Terlalu banyak Mengkonsumsi Gula Rentan Terkena Gangguan Mental

Menurut Survey, Pria Yang Terlalu banyak Mengkonsumsi Gula Rentan Terkena Gangguan Mental

Siapa sih yang tidak suka sama yang manis-manis? Terlepas dari efek yang bisa ditimbulkannya untuk kesehatan, semua orang pasti menyukainya. Makanan manis, minuman manis, buah manis, pokoknya segala sesuatu yang manis pasti menyenangkan untuk dinikmati.

Misalnya saja saat membeli buah, orang-orang pasti akan memilih buah yang manis dan bukan yang masam, iya nggak?

Tapi sayang dibalik rasanya yang nikmat, makanan yang manis atau banyak mengandung gula ini tidak hanya kerap menimbulkan masalah kesehatan pada gigi dan berat badan, melainkan juga bisa menyebabkan berbagai penyakit fisik lainnya.

Bukan hanya penyakit fisik saja, sebuah studi baru yang dilakukan beberapa waktu yang lalu telah menemukan sebuah fakta lain bahwasannya, mengkonsumsi terlalu banyak gula (makanan atau minuman yang manis) dapat meningkatkan resiko gangguan kesehatan mental jangka panjang pada pria.

Gimana? Anda pasti baru pertama kali kan mendengar informasi ini? Untuk mengetahui dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi, serta seperti apa hubungan antara gula dan kesehatan mental tersebut, mari lanjutkan bacaan anda di bawah ini.

Hubungan Pengkonsumsian Gula Dengan Kesehatan Mental

Didalam sebuah studi yang telah dilaksanakan tersebut, periset menemukan bahwa pria yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi lebih dari 67 gram gula setiap harinya dari makanan dan minuman manis, akan cenderung lebih mudah mengalami kecemasan, depresi dan gangguan mental lainnya setelah 5 tahun, dibandingkan dengan pria dengan asupan gula harian yang lebih rendah.

Salah seorang penulis utama studi ini, yaitu Anika Knüppel, dari Institute of Epidemiology and Public Health di University College London di Inggris bersama dengan rekan-rekannya, baru saja melaporkan temuan mereka ini di dalam Jurnal Scientific Reports.

The Diatery Guidelines for Americans merekomendasikan masyarakat bahwa ketika menambahkan gula pada makanan dan minuman selama proses pembuatan atau pada saat menambahkannya sendiri, seharusnya tidak lebih dari 10 persen dari total kalori harian yang dianjurkan untuk orang dewasa dan anak-anak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang dewasa yang berusia 20 tahun ke atas mengkonsumsi sekitar 13 persen gula dari total kalori harian mereka pada tahun 2005 dan 2010, dengan sebagian besar gula tambahan tersebut berasal dari minuman manis, cake dan kue kering, permen dan es krim.

Pengkonsumsian gula dalam jumlah yang terlalu banyak inilah yang dapat meningkatkan resiko berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung dan kerusakan gigi.

Dan seperti yang disenutkan tadi di atas, penelitian yang sebelumnya juga menunjukkan bahwa hal ini kemungkinan besar ada hubungannya dengan peningkatan resiko depresi.

Tapi meskipun begitu, knuppel dan timnya mencatat bahwa para periset telah menyarankan asosiasi untuk mencoba mencari sebab-akibatnya.

Ada juga anggapan yang mengatakan bahwa sebenarnya gangguan mood seseorang lah yang menjadi faktor penyebab tingginya asupan gula di dalam tubuh. Apakah anda mengerti maksudnya?

Begini, ketika seseorang merasa sedang bad mood atau sedang dalam situasi yang kurang mengenakkan jiwanya, maka mengkonsumsi makanan manis diyakini bisa membuat mood mereka berubah menjadi lebih baik.

Untuk penelitian terbaru ini, tim tersebut bertekad untuk lebih memahami apakah konsumsi gula memang benar-benar dapat mempengaruhi perkembangan gangguan kesehatan mental.

Pelaksanaan dan Hasil Penelitian

Knüppel dan rekannya mencoba menganalisis data dari Whitehall Study II, yang melibatkan sebanyak 10.308 peserta, dimana 66,9 persen di antaranya adalah laki-laki yang berusia antara 35 dan 55 tahun untuk tahap pertama penelitian tersebut.

Lebih dari 22 tahun masa tindak lanjut penelitian, barulah peserta bisa menyelesaikan kuesioner frekuensi makanan pada empat titik waktu yang telah ditentukan.

Para peneliti menggunakan informasi dari kuesioner ini untuk menghitung asupan gula harian peserta dari 15 jenis makanan dan minuman manis, termasuk soda, kue, teh dan kopi.

Tidak hanya sampai di situ saja, subjek yang bersangkutan juga menyelesaikan kuesioner kesehatan umum dan wawancara pada beberapa waktu selama masa tindak lanjut. Tim inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi perkembangan mental umum para pasien, seperti kecemasan dan depresi.

Dibandingkan dengan pria yang memiliki asupan gula harian paling rendah (di bawah 39,5 gram sehari), pria yang memiliki asupan gula harian tertinggi (lebih dari 67 gram sehari) memiliki angka sekitar 23 persen lebih kemungkinan mengalami gangguan jiwa setelah 5 tahun kemudian.

Temuan ini didapat setelah memperhitungkan sejumlah faktor kemungkinan, termasuk faktor sosiodemografi, faktor makanan lain dan adanya masalah kesehatan.

Sedangkan penelitian yang dilakukan untuk wanita, diketahui bahwasannya tidak ditemukan adanya hubungan antara gangguan kesehatan mental dengan asupan gula yang mereka konsumsi.

Penelitian Lain Memiliki Hasil Yang Bertolak Belakang

Pro dan Kontra terhadap suatu opini merupakan hal yang wajar terjadi di dalam hidup. Begitu pula dengan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui adanya keterkaitan antara gula dengan kesehatan mental manusia.

Kalau penelitian di atas tadi menyatakan kalau keduanya memiliki kaitan, terutama untuk para pria, maka berbeda lagi dengan penelitian lain yang juga membahas tentang masalah ini.

Para periset lainnya menemukan fakta lain, yaitu bahwa baik itu pria maupun wanita yang memiliki asupan gula harian tinggi lebih cenderung untuk mengalami depresi setelah 5 tahun, dibandingkan dengan mereka yang memiliki asupan gula yang lebih rendah.

Akan tetapi, pendapat ini semakin susut secara perlahan, begitu faktor sosiodemografi dan faktor diet serta kesehatan lainnya mulai dipertimbangkan di dalam penelitian.

Menariknya, beberapa orang juga menemukan bahwa ternyata asupan gula pada pria dan wanita dengan gangguan kesehatan mental sebenarnya tidak lebih tinggi daripada pria dan wanita tanpa gangguan kesehatan mental.

Fakta ini sontak menggagalkan teori mengenai hubungan antara asupan gula tinggi dan risiko gangguan kesehatan mental yang dialami oleh seseorang.

Benar tidaknya teori ini, dalam kenyataannya masih belum jelas atau simpang siur, karena banyak pendapat yang saling bertolak belakang.

Akan tetapi, walaupun masih terlalu dini untuk mengutarakan setuju atau tidak setuju dengan hal ini, namun ada satu hal yang pasti yang harus anda ketahui, yaitu fakta bahwa sesuatu yang sifatnya berlebihan memang tidak ada baiknya, sekalipun hal tersebut pada dasarnya memiliki manfaat yang baik, termasuk dalam hal mengkonsumsi makanan atau minuman yang manis.

Kalau mengkonsumsinya dalam jumlah atau kadar yang sewajarnya, makanan manis dipercaya bisa mengembalikan mood yang tadinya buruk menjadi lebih baik.

Tapi kalau sudah lebih dari yang dianjurkan, bukannya manfaat yang akan anda dapatkan, melainkan penyakit yang dapat membahayakan hidup anda, seperti diabetes dan obesitas misalnya.

Bahkan penelitian baru-baru ini juga menyebutkan bahwa hal ini juga bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang, seperti depresi.

Bagaimana Gula Bisa Menyebabkan Depresi?

Mungkin sebagian dari anda masih bertanya-tanya, bagaimana sih caranya gula bisa menyebabkan depresi pada seseorang? Pertanyaan ini masih tergolong wajar, karena memang kebanyakan orang akan mengalami depresi disebabkan oleh kesulitan atau masalah yang sedang mereka hadapi. Betul tidak?

Akan tetapi, ternyata konteks nya tidak hanya sesederhana itu. Depresi yang dialami seseorang khususnya para pria ternyata juga bisa disebabkan karena terlalu banyak mengkonsumsi gula.

Ada beberapa teori yang menjelaskan kaitan diantara kedua hal ini. Salah satunya menyatakan kalau gula yang dikonsumsi akan menekan aktivitas hormon yang disebut dengan BDNF, yang diketahui rendah pada individu yang memiliki skizofrenia.

Gula juga dianggap sebagai akar dari berbagai masalah peradangan kronis, yang berdampak pada sistem kekebalan tubuh, otak dan sistem tubuh lain di dalam tubuh dan juga terlibat sebagai penyebab depresi. Menariknya lagi, berdasarkan data yang didapat dari sebuah studi, negara dengan asupan gula tinggi diketahui juga memiliki tingkat depresi yang tinggi.

Kesimpulan

Banyak orang yang meyakini kalau makanan manis yang dikonsumsi bisa menimbulkan perasaan positif untuk jangka waktu yang pendek.

Orang yang mengalami mood yang berantakan, akan memilih untuk memakan makanan bergula, dengan harapan bisa mengurangi perasaan negatif yang sedang mereka rasakan.

Namun studi yang ada menunjukkan bahwa asupan makanan manis yang tinggi lebih cenderung memiliki efek yang berlawanan pada kesehatan mental jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Berdasarkan temuan yang mereka dapat, para periset ini percaya bahwa anda perlu mengurangi pengkonsumsian terhadap makanan yang bergula sebagai sarana untuk meningkatkan mood, karena hal itu mungkin akan menimbulkan efek yang berbahaya untuk anda.

Selain bisa menyebabkan anda mengalami obesitas dan diabetes, khusus untuk pria  efeknya bahkan bisa menyebabkan gangguan mental. So guys, lebih berhati-hati ya mulai sekarang.