Perkawinan Sedarah Kembali Viral, Berikut Bahaya Yang Bisa Ditimbulkan

Baru-baru ini, kasus perkawinan sedarah kembali menjadi bahan perbincangan warganet, khususnya di Indonesia.

Seorang wanita yang baru saja menikah beberapa bulan lalu harus menerima kenyataan pahit, karena mendapati pasangan hidupnya (sang suami) ternyata hanya menjadikannya sebagai bahan pengalihan, untuk menutupi hubungannya dengan adik kandungnya sendiri.

Dan yang lebih membuatnya bertambah sakit lagi adalah karena hal tersebut ternyata sudah diketahui oleh keluarga sang suami, yang secara tidak langsung bersekongkol untuk membodohi dirinya.

Bahkan dia kerap mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami, ketika sudah mengetahui hubungan terlarang yang dijalani oleh kakak-beradik tersebut.

Sejak menyebarnya berita ini di sosial media, banyak warganet yang menaruh simpati padanya dan pada apa yang telah dialami oleh wanita tersebut.

Tidak sedikit pula diantara mereka yang mulai mempertanyakan mengenai apa dan bagaimana sebenarnya perkawinan sedarah itu, serta apa dampak yang bisa ditimbulkannya.

Karena alasan di atas, kami pun berniat untuk memberikan sejumlah penjelasan mengenai apa saja yang perlu anda ketahui tentang perkawinan sedarah, yang sebenarnya sudah ada dan populer sejak dulu sekali.

Awal Mula Munculnya Perkawinan Sedarah

Perkawinan sedarah atau yang juga dikenal dengan istilah incest adalah aktivitas seksual yang dilakukan antara anggota keluarga atau kerabat dekat.

Biasanya aktivitas seksual ini terjadi pada keluarga yang memiliki hubungan yang tidak harmonis dan terkadang berkaitan dengan beberapa hal seperti afinitas (ketertarikan) dan lain sebagainya.

Hubungan seksual ini bisa terjadi antara ayah dengan anak, ibu dengan anak, kakek dengan cucu atau kakak dengan adik, seperti yang terjadi pada kasus yang sebelumnya sudah diceritakan sedikit di atas tadi.

Sebagian kasus incest termasuk kedalam kejahatan atau penganiayaan seksual, apabila perilaku seksual yang dilakukan dapat berupa penganiayaan secara fisik maupun non fisik, yang dilakukan oleh orang yang lebih tua atau memiliki kekuasaan, yang bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual pelakunya.

Studi yang dilakukan oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di Jawa Timur, pada tahun 2000, berhasil mengungkap bahwa pelaku tindak pemerkosaan ternyata tidak selalu dilakukan oleh penjahat, preman ataupun orang yang tidak dikenal.

Namun sayangnya ternyata kebanyakan pelaku tindakan kejahatan ini adalah orang yang sudah dikenal baik oleh korban, entah itu tetangga, saudara, kerabat, guru, bahkan kakek atau ayah kandung korban sendiri.

Dari 312 kasus yang berhasil diidentifikasi dari berita media massa selama kurun waktu 1996-1999 di Jawa Timur, diketahui ada sekitar 10,4 persen yang pelakunya ternyata adalah ayah kandung. Itulah sebabnya mengapa jumlah kasus incest yang sebenarnya jauh lebih besar daripada yang diekspos media massa.

Perkawinan sedarah atau Incest sebenarnya sudah ada atau terjadi sejak dulu kala. Di dalam sejarah dicatat bahwa raja-raja Mesir kuno dan putra-putrinya kerap kali melakukan incest dengan motif tertentu, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas generasi penerusnya.

Pasca invasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarain), para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkimpoian (komitmen antar 2 orang yang tidak boleh disalahgunakan) dengan saudara kandung, dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan.

Salah satu contoh yang diketahui adalah incest yang dilakukan oleh Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Tak hanya populer di kalangan bangsawan, beberapa ahli juga berpendapat bahwa tindakan seperti ini juga biasa dilakukan oleh kalangan orang biasa.

Toleransi semacam ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkimpoian Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis. Sedangakn dalam mitologi Yunani kuno ada kisah Dewa Zeus yang melakukan kimpoi dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.

Dan sampai saat ini, banyak masyarakat yang juga masih melakukan incest. Entah itu karena faktor kesengajaan atau ketidak sengajaan, namun yang menjadi pertanyaan pentingnya adalah, boleh tidaknya hal tersebut dilakukan. Menurut pandangan anda sendiri bagaimana? 

Bolehkah Incest Dilakukan?

Kalau pertanyaannya adalah boleh atau tidaknya tindakan incest ini, semua dikembalikan kepada kebijakan negara ataupun masyarakat yang ada di sekitarnya. Kalau di Indonesia sendiri, hal-hal yang seperti ini biasanya dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dilakukan.

Hal yang tabu sangatlah identik dengan suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat.

Pelanggaran terhadap sesuatu yang tabu ini biasanya sulit untuk diterima oleh sebagain orang. Beberapa tindakan atau kebiasaan yang bersifat tabu bahkan dilarang secara hukum dan pelanggarannya dapat menyebabkan pemberian sanksi keras, karena dianggap telah membuat malu, aib dan perlakuan tak mengenakkan yang lainnya.

Sebagian besar masyarakat modern memiliki undang-undang yang mengatur tentang pembatasan incest atau perkawinan sedarah yang dianggap sangat kontroversial.

Di Inggris, ketika seorang wanita muda ‘tertangkap’ sedang berhubungan seks dengan saudara laki-lakinya, keduanya terlihat saling menyalahkan satu sama lain, dengan alasan alkohol, keputusasaan dan sebagainya, yang dianggap sebagai motivasi untuk melakukan hal tersebut.

Hal itu bukanlah yang menjadi pusat perhatiannya. Yang menjadi perhatian dalam kasus ini adalah bahwa pasangan tersebut dihukum karena melakukan incest di bawah Pasal 1 (1) Undang-Undang Hukum Pidana (Konsolidasi) (Scotland) 1995.

Untuk sebagian masyarakat yang menganggap perkawinan sedarah sebagai sesuatu yang legal, incest yang dilakukan oleh orang dewasa biasanya dianggap sebagai kejahatan tanpa korban.

Kerabat tingkat tiga (seperti bibi, keponakan atau sepupu pertama) rata-rata berbagi gen sebanyak 12,5%. Hubungan seksual yang terjadi di antara mereka dipandang berbeda dalam berbagai budaya. Anak-anak dari hubungan incest ini pun biasanya dianggap tidak sah.

Mengapa Incest Harus Dihindari?

Pernahkah anda bertanya mengapa incest atau perkawinan sedarah tak seharusnya terjadi dan dilarang? Jawabannya sederhana saja, tidak kah anda merasa kalau menikah dengan ayah atau saudara kandung anda sendiri itu menjijikkan?

Tak hanya itu saja, aktivitas berhubungan seks setelah menikah dengan seseorang yang memiliki ikatan darah tidak diperbolehkan atau dilarang oleh sebagian orang karena adanya kemungkinan keturunan hasil perkawinan tersebut akan lahir dengan cacat lahir yang serius.

Sebuah studi tentang anak-anak Cekoslowakia yang ayahnya adalah saudara tingkat pertama menemukan bahwa, kurang dari setengah anak-anak yang merupakan produk dari incest tersebut benar-benar sehat.

Sebanyak empat puluh dua persen dari mereka diketahui memiliki cacat lahir yang parah atau mengalami kematian dini. Sedangkan 11 persen lainnya sedikit mengalami gangguan mental.

  • Incest Menghasilkan Anak-Anak Dengan Cacat Lahir

Studi ini bersifat sangat edukatif karena mencakup kelompok kontrol yang unik, dimana keturunan tersebut berasal dari ibu yang sama namun ayahnya bukan sanak keluarga dari ibu tersebut (orang lain). Ketika wanita yang sama menikah dengan orang lain, diketahui bahwasannya hanya sekitar 7 persen anak mereka yang lahir dengan cacat lahir.

Sekelompok konselor genetik mencoba untuk mengkaji ulang penelitian tentang konsekuensi biologis dari hubungan seks sedarah ini. Mereka menemukan adanya peningkatan yang sangat kecil (sekitar 4 persen) pada kelahiran cacat yang dihasilkan dari hubungan seksual dengan sepupu.

Para peneliti juga memeriksa empat penelitian (termasuk penelitian Ceko) mengenai efek incest tingkat pertama terhadap kesehatan keturunan.

Hasilnya, diketahui bahwa empat puluh persen anak-anak lahir dengan gangguan resesif autosomal, malformasi fisik bawaan, atau defisit intelektual yang parah. Selain itu, 14 persen lainnya ditemukan memiliki cacat mental ringan.

Dari hasil tersebut, maka ada kemungkinan kalau anak yang baru lahir dari hasil hubungan sedarah, seperti antara kakak dan adiknya, atau ayah dengan anak perempuannya akan mengalami sejumlah gangguan atau kelainan seperti kematian dini, cacat lahir yang parah atau beberapa kekurangan mental lainnya sampai sekitar 50 persen.

  • Menimbulkan Masalah Konsistensi Moral dan Politik Aborsi

Efek negatif incest yang mendalam pada anak yang belum lahir juga bisa menimbulkan masalah konsistensi moral dan politik aborsi. Jika anda percaya bahwa kehidupan manusia dimulai pada saat sperma bertemu dengan sel telur, maka sangat logis untuk menentang aborsi.

Tapi sampai pada titik manakah seseorang yang sedang emosional bisa berpikir logis dan bisa menggunakan akal sehatnya?

Selama konvensi Partai Republik yang dilakukan pada tahun 2012 di Tampa, Komite Platform berjuang dengan aspek argumen yang menentang pelegalan aborsi.

Hampir semua orang di komite sepakat bahwa tindakan aborsi harus dilarang. Namun mereka juga menanyakan apakah doktrin resmi tersebut harus mencakup pengecualian terhadap larangan aborsi jika janin tersebut adalah hasil pemerkosaan atau incest?

Namun pada akhirnya kemurnian ideologis lah yang menang. Platform resmi Republikan menyatakan bahwa mereka menegaskan adanya martabat dan kesucian yang melekat pada semua kehidupan manusia dan menegaskan bahwa anak yang belum lahir juga memiliki hak individu yang mendasar untuk hidup yang tidak dapat dilanggar.

Tidak ada pengecualian sama sekali, bahkan dalam kasus incest sekalipun. Bagaimana dengan anda? Setujukah anda dengan keputusan ini? Atau mungkin anda punya pendapat yang lainnya? 

Tapi apapun itu, daripada harus melakukan aborsi atau pun melahirkan anak-anak tersebut dalam kondisi yang tidak baik, akan lebih baik jika hubungan incestnya saja yang dilarang dan diminimalkan. Setuju nggak guys?

Kesimpulan

Perkawinan sedarah atau incest sebenarnya sudah ada sejak zaman Mesir Kuno, dimana para bangsawan Mesir sering melakukan perkawinan sedarah tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan dengan maksud mempertahankan kekuasaan.

Tak hanya pada zaman itu, sampai dengan saat ini pun banyak juga orang yang masih melakukannya. Hanya saja tidak banyak yang berhasil dipublikasikan.

Di mata kebanyakan masyarakat, termasuk Indonesia, tindakan incest merupakan hal yang sangat tabu dan tidak seharusnya dilakukan karena dianggap melanggar adat istiadat oleh sebagian orang.

Selain melanggar adat, incest juga bisa berakibat buruk pada hasil perkawinan itu sendiri. Kita semua tahu kalau semua orang menikah adalah supaya memiliki keturunan. Dan tak seorangpun di dunia ini yang ingin keturunannya lahir dengan kelainan atau cacat, bukan?

Menurut penelitian dan sejumlah fakta yang ditemukan, anak dari hasil perkawinan sedarah atau incest umumnya lahir dengan sejumlah kelainan seperti, gangguan resesif autosomal, malformasi fisik bawaan, atau defisit intelektual yang parah dan cacat mental ringan, bahkan juga kematian dini.

So guys, jika anda tidak ingin hal ini terjadi pada anda, maka hindarilah perilaku menyimpang ini.