Siapakah Teman Sejati Anda? Gelombang Otak Bisa Membantu Menemukannya

Siapakah Teman Sejati Anda? Gelombang Otak Bisa Membantu Menemukannya

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Dan sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebiasaan berkomunikasi atau berinteraksi dengan manusia yang lainnya, yang pada akhirnya akan membentuk sebuah kelompok.

Pepatah yang mengatakan bahwa “manusia tidak bisa hidup sendiri” adalah salah satu bukti mengapa anda dan juga saya disebut sebagai makhluk sosial.

Kiasan ini tidak hanya berlaku untuk orang-orang yang hidup atau tinggal di kota maupun desa, melainkan juga berlaku untuk suku-suku yang tinggal di pedalaman.

Meskipun sebagian dari mereka menutup diri dari masyarakat lainnya, namun paling tidak mereka melakukan interaksi dengan orang-orang di kelompok mereka (sesama suku).

Interaksi Sosial Menciptakan Pertemanan

Dari interaksi dan komunikasi yang dilakukan, masyarakat yang membentuk kelompok tersebut kemudian akan menjalin sebuah hubungan yang jauh lebih spesial atau khusus, yang disebut dengan “pertemanan“.

Hubungan pertemanan ini sangat bervariasi. Jumlah member atau individu di dalamnya juga beragam, yang pasti terdiri dari 2 orang atau lebih. Tidak sendiri.

Kalau hanya sendiri, itu namanya bukan makhluk sosial dan bisa dibilang manusia yang seperti itu sangat langka ditemukan.  Biasanya hidup menyendiri atau soliter ini banyak terjadi pada golongan hewan atau mikroorganisme.

Pertemanan antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya juga tak sama. Tergantung faktor-faktor  yang mendasarinya. Ada pertemanan yang didasari oleh hobi yang sama, status sosial yang sama, karakter yang mirip dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bagaimana dengan anda? Jenis pertemanan seperti apa yang sedang anda jalani sekarang? Nyamankah anda saat bersama dengan kelompok tersebut? Atau pernahkah anda bertengkar antara satu dengan lainnya? Pasti pernah lah ya kan.

Namanya juga manusia diciptakan dengan pola pikir yang berbeda, yang kemudian bersatu dalam sebuah kelompok khusus yang terdiri dari beberapa orang, yang juga punya pola pikir masing-masing, pasti ada waktu “slek atau cekcok nya“. Betul nggak? Hayooo, siapa di antara anda yang nggak pernah slek dengan temannya? Pasti nggak ada kan?

Hal seperti ini sangat umum terjadi di dalam sebuah pertemanan dan hampir seluruh masyarakat pernah mengalaminya. Termasuk anda dan saya.

Terkadang di dalam sebuah pertemanan yang terdiri 2 orang atau lebih, biasanya ada salah satu yang kalau dalam bahasa gaulnya disebut “FAKE”.

Yap, seperti sebutannya, orang yang seperti ini biasanya “lain di depan, lain di belakang“, yang artinya di depan anda dia bisa menjadi malaikat yang selalu memuji dan terlihat seakan mendukung anda, namun di belakang anda, dia melakukan hal yang sebaliknya.

Hubungan yang seperti ini biasa digambarkan dengan ilustrasi seperti yang ada di bawah ini. Gimana? Apakah anda pernah mengalami hal yang serupa?

Mengenal Siapa Sesungguhnya Teman Sejati Anda

Untuk bisa membedakan mana yang namanya teman sejati dan yang tidak bukanlah perkara yang mudah dan pastinya membutuhkan waktu untuk bisa benar-benar mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa banyak pertemanan yang akhirnya retak bahkan hancur setelah bertahun-tahun saling mengenal.

Kecewa dan sedih adalah dua ungkapan yang akan muncul saat anda mengetahui bahwa teman yang paling anda percaya ternyata tidak seperti yang anda bayangkan, bahkan tega menyakiti anda. Tapi mau gimana lagi, memang begitulah yang namanya pertemanan.

Pengalaman buruk dalam pertemanan ini akhirnya menggugah perhatian beberapa ahli untuk melakukan penelitian, yang bertujuan untuk membantu individu menemukan teman sejati mereka.

Sebuah studi yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan baru-baru ini berhasil menemukan cara untuk menunjukkan kepada anda siapa yang pantas untuk anda jadikan sebagai teman sejati. Cara ini diyakini bisa memprediksi pertemanan, berdasarkan aktivitas yang terjadi di dalam otak anda.

Sebuah studi baru yang dipimpin oleh Carolyn Parkinson, yang dulunya berbasis di Dartmouth College di Hanover, MA, yang sekarang menjadi asisten profesor psikologi yang bekerja di University of California di Los Angeles, menunjukkan bahwa otak teman merespons dengan cara yang sangat mirip dengan rangsangan yang sama.

Layaknya asmara, persahabatan juga merupakan teka-teki ilmiah. Pernahkah anda berpikir mengapa kita bisa berteman dengan seseorang tapi tidak dengan yang lainnya?

Apakah karena kita cenderung secara tidak sadar memilih orang yang paling mirip dengan kita, seperti individu dengan usia, jenis kelamin, atau latar belakang pendidikan yang sama?

Tim peneliti yang menerbitkan temuan mereka tersebut di dalam jurnal Nature Communication berpendapat bahwa manusia cenderung bergaul dengan orang-orang yang otaknya merespon dengan cara yang sama dengan stimulus preset yang juga sama.

Preset sendiri adalah kumpulan rekaman history setting yang berisi pengaturan warna, kontras, temperatur, vibrance dan pengaturan lain yang telah disimpan.

Respons saraf terhadap rangsangan naturalistik yang dinamis, seperti video misalnya, dapat memberi kita jendela ke dalam proses pemikiran spontan yang tidak terbatas dan tanpa hambatan saat terungkap. Hasil kami menunjukkan bahwa teman-teman memproses dunia di sekitar mereka dengan cara yang sangat mirip“, kata Carolyn Parkinson.

Studi ini mengikuti jejak penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dartmouth College, yang berhasil menunjukkan bahwa, ketika kita menyeberang jalan dengan seseorang yang sudah kita kenal, otak kita secara spontan menandakan posisi hierarkis mereka di jaringan sosial pribadi kita.

Kaitan Antara Aktivitas Otak dan Pertemanan

Saat melakukan penelitian terhadap hubungan pertemanan ini, Parkison dan rekannya pertama kali melakukan wawancara kepada 279 orang mahasiswa pasca sarjana. Isi dari wawancara tersebut adalah menanyakan kepada mereka tentang persahabatan yang mereka jalani.

Mereka kemudian diminta untuk menunjukkan orang-orang yang paling dekat dengan mereka. Selanjutnya para peneliti mencoba untuk memperkirakan “jarak sosial antar individu” yang ada di dalam hubungan kelompok tersebut dengan menggunakan “ikatan yang telah dilaporkan” oleh para peserta.

Untuk mengetahui bagaimana respons otak terhadap rangsangan yang sama bisa mempengaruhi kemungkinan terbentuknya persahabatan, para ilmuwan melakukan pemindaian MRI fungsional (fMRI) pada subset penelitian yang terdiri dari 42 peserta saat mereka menampilkan rangkaian dari 14 video.

Setelah itu, video tersebut kemudian ditampilkan dengan urutan yang sama persis untuk semua peserta yang menjalani pemindaian otak.

Selanjutnya, para peneliti melihat sepasang siswa, membandingkan respons fMRI mereka dengan rangsangan yang mereka hadapi. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah peserta yang diidentifikasi sebagai teman juga memiliki respons saraf yang serupa.

Teman Sejati Adalah Orang Yang Memiliki Aktivitas Otak Yang Mirip Dengan Anda

Analisis yang dilakukan tersebut mengkonfirmasi bahwasannya mereka yang menjalin hubungan pertemanan yang baik, umumnya memiliki respons saraf yang mirip secara keseluruhan, yang didukung dengan aktivitas dari otak mereka, yang menunjukkan reaksi emosional yang kompatibel, umpan balik terkait perhatian dan penalaran yang kompleks diantara keduanya.

Temuan yang didapatkan ini memiliki hasil yang sama setelah penelitian yang lain juga dilakukan untuk menguji kerelevanannya. Studi itu dilaksanakan dengan menyesuaikan variabel yang relevan, termasuk kewaspadaan peserta (baik itu kidal atau kidal), usia dan jenis kelamin biologis.

Tak hanya itu saja, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa tanggapan saraf bisa digunakan untuk menentukan jarak sosial antara dua orang individu yang sedang menjalin pertemanan.

Kita adalah spesies sosial,” catat penulis senior penelitian yang bernama Thalia Wheatley. Kita menjalani hidup yang terhubung dengan orang lain.

Jika kita ingin memahami bagaimana otak manusia bekerja, maka kita perlu memahami bagaimana sebenarnya otak bekerja dalam kombinasi tertentu, atau intinya adalah anda harus tahu bagaimana bentuk pikiran anda satu sama lain.”

Para ilmuwan sekarang ingin mengetahui di mana letak kausalitasnya yang berhubungan dengan persahabatan. Apakah kita mencari orang yang bisa saling berbagi pandangan dunia dengan kita, atau mungkin sebaliknya. Dan apakah persepsi kita akan berubah saat kita terlibat dengan kelompok sosial tertentu?

Kemungkinan ketiga yang mereka pertimbangkan di dalam studi tersebut adalah bahwa pertemanan yang baik adalah yang seimbang, yaitu dimana anda bisa mencari orang-orang yang serupa dengan anda dan mengubah persepsi anda agar lebih sesuai dengan ikatan sosial baru yang anda jalani.

Kesimpulan

Di dalam dunia pertemanan, tidak semua orang bisa dengan mudah menemukan teman yang tepat atau sejati. Yah, kalau diibaratkan sih seperti “mencari jarum di tumpukan jerami“. Bisa tergambarkan bagaimana susahnya? Semua membutuhkan proses, yaitu proses pertemanan pastinya.

Untuk saat ini, banyak sekali teman-teman “fake” yang berkeliaran. Dikatakan fake karena kebanyakan dari mereka berteman hanya karena ada maunya saja. Teman yang seperti inilah yang kerap membuat kita akhirnya menjadi malas berteman dan lebih suka menyendiri.

Tapi anda tidak perlu khawatir lagi sekarang, karena kini sudah ditemukan cara untuk mengetahui siapa yang benar-benar bisa dianggap sebagai teman sejati dan yang tidak.

Berdasarkan hasil penelitian yang di dapat, teman sejati umumnya akan memiliki respon saraf yang sama atau setidaknya mirip dengan kita. Respon inilah yang akan menunjukkan reaksi emosional yang kompatibel, umpan balik terkait perhatian dan penalaran yang kompleks.

Jadi mulai sekarang, anda bisa menggunakan cara ini agar tidak tertipu dengan pertemanan-pertemanan yang palsu. Memelihara teman yang “fake” hanya akan membuat hidup anda menjadi sengsara.

So guys, ingatlah kalau akan lebih baik jika hanya punya satu orang teman yang benar-benar teman, dibandingkan punya 10 teman yang kerjanya hanya pencitraan. Setuju kan?