Bersiaplah, Fenomena Yang Membuat Anda Kehilangan Bayangan Segera Tiba

Bersiaplah, Fenomena Yang Membuat Anda Kehilangan Bayangan Segera Tiba

Beberapa waktu yang lalu, sebuah kabar tentang Fenomena Hari Tanpa Bayangan mulai menggegerkan masyarakat dunia. Coba bayangkan, ada hari dimana saat anda berdiri di bawah teriknya matahari tapi anda tidak bisa menemukan bayangan anda di bawah. Aneh sekali, kan?

Banyak di antara anda yang mungkin sudah mendengar berita ini, bukan? Kabarnya lumayan ramai lo di media sosial. Akan tetapi, dibalik kehebohan kabar ini, masih banyak orang yang belum begitu mengerti akan maksud dari fenomena tersebut dan ada pula yang bahkan tidak percaya dengan berita ini dan menganggapnya sebagai hoax. Benarkah demikian?

Lantas, apa kebenarannya sebenarnya? Apakah benar ada hari tanpa bayangan itu? Kalau memang ada, seperti apa fenomena ini sebenarnya?

Dan satu pertanyaan lagi, adakah efek yang akan ditimbulkan oleh fenomena tersebut? Banyak sekali pertanyaan yang muncul terkait dengan hari yang sangat langka ini. Tapi tidak perlu khawatir, karena kami akan memberikan informasi yang anda cari mengenai fenomena unik tersebut.

Fenomena Hari Tanpa Bayangan

Ketika kita berdiri di luar rumah pada saat siang hari, dimana matahari bersinar dengan teriknya, biasanya kita akan menemukan bayangan kita di bawahnya, seperti yang bisa anda lihat pada gambar anak kecil di atas.

Akan tetapi, siapa sangka ternyata ada saat dimana anda tidak bisa menemukan bayangan tersebut sekalipun anda berdiri di luar saat siang hari. Dan inilah yang akan terjadi beberapa hari lagi. Jadi kalau anda tidak percaya atau merasa penasaran ingin membuktikan kebenarannya, anda bisa mencobanya beberapa hari lagi.

Sebelum membahas banyak mengenai fenomena tersebut, pertama-tama kami akan memberikan sedikit penjelasan mengenai apa sebenarnya pengertian dari bayangan itu dan bagaimana bisa terbentuk.

Pengertian Bayangan

Kita semua memiliki bayangan. Kalau anda tidak percaya, coba nyalakan lampu anda dalam posisi redup dan kemudian berdiri menghadap dinding. Setelah melakukannya anda pasti akan menemukan bayangan anda di sana. Betul nggak? 

Jangankan anda, benda-benda yang ada di sekitar anda pun bisa menghasilkan bayangan. Kenapa bisa begitu? Berikut penjelasannya.

Bayangan adalah area gelap dimana cahaya yang dihasilkan dari sumber cahaya menjadi terhalang oleh benda buram. Cahaya merambat dalam garis lurus. Bila cahaya terhalang sesuatu benda maka, akan timbul lah bayangan dari benda penghalang itu.

Jika sumber cahayanya lemah, seperti matahari pada hari yang berawan, biasanya bayangan menjadi tidak begitu terlihat. Sedangkat di tempat yang teduh, biasanya bayangan tidak akan terlihat.

Besar kecilnya bayangan yang dihasilkan tergantung pada seberapa dekat benda tersebut dengan sumber cahaya. Apabila suatu benda bergerak mendekati titik pusat cahaya, bayangan benda itu akan membesar karena benda tersebut mendekati titik cahaya pada sumber cahaya.

Sebaliknya, apabila benda menjauhi cahaya, bayangan yang dihasilkan oleh benda itupun menjadi kecil, karena benda tersebut menjauhi titik sumber cahaya.

Hal ini sesuai dengan sifat cahaya yang merambat, dimana garis lurus menyebar dari satu titik pusat cahaya. Contoh sumber cahaya yang sering kita temukan disekeliling kita adalah bola lampu, matahari dan masih banyak sumber cahaya lainnya.

Apa Yang Dimaksud Dengan “Hari Tanpa Bayangan”?

Secara sederhana, fenomena ini bisa dijelaskan dengan eksperimen Matahari. Anda bisa melakukannya dengan menegakkan tongkat atau benda tertentu di permukaan yang datar di bawah matahari dan kemudian mengamati bayangan yang terbentuk.

Pada siang hari yang normal, anda akan melihat bayangannya jatuh di sebelah barat dan biasanya bayangan yang terbentuk sangat pendek, sedangkan jika anda melakukannya pada sore hari, anda akan menemukan kalau bayangan benda tersenut jatuh ke arah timur.

Hal menarik lainnya juga bisa anda lihat saat meletakkan benda di bawah sinar matahari pada saat tengah hari. Biasanya pada saat seperti ini anda tidak akan bisa menemukan bayangan benda itu, karena bayangannya akan jatuh tepat pada benda itu sendiri.

Meski disebut hari tanpa bayangan matahari, namun bayangan matahari hanya “hilang” pada pertengahan hari saja. Sedangkan pada pagi dan sore harinya, bayangan masih bisa dilihat dengan melakukan eksperimen sederhana yang sama seperti yang disebutkan di atas.

Orang-orang Hawai menyebut peristiwa ini sebagai fenomena Lahaina Noon. Hawai merupakan satu-satunya negara bagian di Amerika Serikat yang mengalami fenomena unik ini, tapi bukan satu-satunya tempat di bumi dimana hal ini terjadi. Mengertikan maksudnya?

Sebenarnya, ada satu titik di bumi yang mungkin sekarang ini, bahkan saat anda sedang membaca artikel ini, dimana matahari tidak menghasilkan bayangan sama sekali. Titik itu terus bergerak melintasi permukaan bumi saat planet berputar.

Mungkin, sekarang berada di tengah lautan, di padang pasir ataupun di tempat yang tidak jelas dimana fenomena ini sulit diamati atau tidak ada yang memperhatikannya.

Titik ini disebut titik subsolar. Pada titik subsolar, sinar matahari menabrak planet yang persis tegak lurus terhadap permukaannya, jadi benda tegak lurus manapun tidak akan memancarkan bayangan.

Fenomena bayangan inilah yang disebut sebagai Lahaina Noon oleh Bishop Museum di Hawaii, mengacu pada ibukota Hawaii Lahaina, di Pulau Maui. “La haina” memiliki arti matahari yang kejam dalam bahasa Hawaii.

Saat bumi berputar, titik subsolar bergerak ke barat, mengelilingi dunia sekali sehari. Ini juga bergerak ke utara dan selatan antara Tropic of Cancer dan Tropic of Capricorn.

Bila titik subsolar berada di Tropic of Capricorn, maka akan terjadi titik balik matahari pada bulan Desember. Sedangkan titik balik matahari yang terjadi bulan Juni adalah akibat dari subsolar yang berada di Tropic of Cancer. Sementara itu, ekuinoks bulan Maret dan September terjadi ketika titik subsolar melintasi katulistiwa.

Tanggal terjadinya Lahaina Noon ini terus berubah dari tahun ke tahun. Lahaina Noon yang pertama terjadi di bulan Mei dan yang kedua di bulan Juli. Waktunya biasanya antara 12:16 sampai 12:43 p.m. Waktu Standar Hawaii-Aleutian. Anda dapat melakukan checkout kalender lokal atau mencari di Google untuk tanggal dan koordinat yang tepat.

Fenomena Hari Tanpa Bayangan di Indonesia

Matahari memiliki gerak harian dan tahunan yang jelas. Bukti nyata sehari-hari yang bisa kita lihat dari pergerakan tersebut adalah penampakan matahari yang bersinar di sebelah timur pada siang hari dan tenggelam di sebelah barat pada sore hari. 

Pada gerak buatan tahunan, anda yang berada di garis lintang nol akan melihat matahari bergeser ke arah utara pada tanggal 21 Maret sampai 23 September dan bergeser ke selatan antara 23 September hingga 21 Maret. Tepat pada tanggal 21 dan 23 September, Matahari akan berada di khatulistiwa.

Gerakan nyata sinar matahari ini membuat matahari singgah di daerah antara 23,5 derajat Lintang Utara sampai 23,5 derajat lintang selatan. Matahari kemudian terbenam di suatu tempat dan menyebabkan fenomena hari tanpa bayangan.

Secara ilmiah, hari tanpa bayangan Matahari disebut sebagai Transit Utama, yaitu peristiwa yang terjadi saat Matahari berada di puncak sebuah tempat, atau terjadi karena matahari berada langsung di atas kepala.

Jadi, jika pada siang hari di Solo terjadi hari tanpa bayangan Matahari, maka fenomena tersebut hanya akan terjadi dan dirasakan oleh masyarakat Solo saja. Kejadian ini bukanlah termasuk peristiwa langka, karena ternyata fenomena ini terjadi secara berkala.

Sayangnya, Matahari tidak bisa digeser ke arah barat ataupun timur, sehingga beberapa kota di Indonesia yang terletak di bagian tersebut, seperti Aceh, Jakarta dan Jayapura tidak bisa menikmati transit utama atau fenomena hari tanpa bayangan matahari.

Sedangkan untuk anda yang berada di kota yang letaknya di daerah khatulistiwa, seperti Pontianak misalnya, anda lah yang beruntung bisa merasakan fenomena, yang kabarnya akan terjadi sebentar lagi ini, tepatnya pada tanggal 21 Maret (tinggal hitungan hari saja).

Apa Keistimewaan Dari Fenomena Tanpa Bayangan?

Meski fenomena alam ini disebut sebagai hari tanpa bayangan, tapi tahu kah anda bahwa hal ini tak berlaku pada pohon. Pohon rindang masih akan memiliki bayangan pada saat sebelum dan sesudah tengah hari fenomena tersebut berlangsung. Wah, aneh sekali bukan? Inilah yang menjadi salah satu keistimewaan dari peristiwa hilangnya bayangan matahari.

Transit Utama atau Fenomena Tanpa Bayangan Matahari ini pertama kali digunakan sekitar 2000 tahun yang lalu oleh Eratosthenes untuk mengukur keliling bumi. Saat itu, Eratosthenes mencoba membandingkan fenomena yang terjadi di kota Shina (Aswan) dan Alexandria.

Di dalam pengamatannya itu Dia menemukan bahwa setiap 22 Juni, sebuah sumur yang ada di kota Shina mendapatkan radiasi menyeluruh, yang berarti tegak lurus terhadap Matahari. Sementara itu, monumen di kota Alexandria menunjukkan bayangan pada tanggal yang sama.

Dari pengamatan keduanya, Eratosthenes percaya bahwa Bumi berputar dan bahwa Shina dan Alexandria terletak di Meridien yang sama.

Kemudian Eratosthenes juga menemukan sebuah persamaan, bahwa lingkar bumi dibagi dengan jarak dua kota yang terletak di meridian yang sama, yang artinya hal tersebut setara dengan 360 derajat dibagi dengan sudut antara kedua kota.

Untuk mengukur lingkar bumi, Eratosthenes menghitung jarak Shina ke Alexandria dan mendapat angka 5000 Stadia (800 km). Pengukuran diperoleh dengan mengalikan waktu tempuh selama 50 hari dengan kecepatan 100 kereta stadia. Stadia adalah arena olah raga yang digunakan oleh orang-orang Yunani, yang berukuran sekitar 185 meter.

Eratosthenes akhirnya mengeluarkan sebuah teori bahwa sinar matahari yang mencapai Bumi berjalan sejajar. Dari sini, terungkap bahwa sudut antara Alexandria dan Shina adalah titik kelima lingkar Bumi, atau 7,12 derajat.

Dengan perhitungannya tersebut, Eratosthenes mendapatkan hasil bahwa keliling bumi adalah 250.000 stadia, atau 46.300 kilometer.

Perhitungan Eratosthenes ini cukup akurat, hanya sekitar 15 persen hitungannya yang meleset dari perhitungan yang ada saat ini. Berdasarkan hitungan moderen, jarak Shina-Alexandria adalah 729 km, bukan 800 km seperti yang dikemukakan sebelumnya.

Alexandria dan Shina juga tidak terletak di meridian yang sama, namun memiliki perbedaan sekitar 3 derajat. Namun, hasil penelitian Eratosthenes ini patut untuk dihargai, karena percobaan yang dilakukannya telah membawa banyak perubahan yang lebih baik untuk pengetahuan dunia.

Dampak Dari Hari Tanpa Bayangan

Rhorom Priyatikanto, selaku peneliti ruang angkasa di Pusat Penelitian Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengungkapkan dampak dari fenomena hari tanpa bayangan yang sebentar lagi akan terjadi di beberapa tempat di dunia, termasuk di Indonesia, tepatnya di daerah Khatulistiwa (Pontianak).

Adapun dampak yang akan ditimbulak tersebut antara lain:

  • Pertama, karena Matahari lewat tepat di atas kepala, maka dampak Matahari akan lebih terik 9 persen dibanding saat titik balik matahari. Sebagai catatan, titik balik matahari adalah saat ketika Matahari berada di titik paling utara dan paling selatan. Titik tengah menandakan puncak musim panas atau musim dingin. Puncak musim panas terjadi sekitar tanggal 22 Juni, sedangkan puncak musim dingin terjadi sekitar 22 Desember.
  • Kedua, tidak ada perubahan dalam akselerasi atau gravitasi Bumi atau Matahari.
  • Ketiga, hari tanpa bayangan menandai dimulainya perubahan musim di wilayah Indonesia.

Pada tanggal 21 Maret 2018 ini, LAPAN akan berpartisipasi dalam Festival Bayangan Sembilan Hari di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Festival ini akan berlangsung hingga 23 Maret 2018. Di dalam festival ini, LAPAN akan mempresentasikan pameran planetarium mini dan ceramah pendidikan.

Kesimpulan

Pada tanggal 21 Maret 2018, beberapa daerah di dunia akan mengalami peristiwa unik yang bernama fenomena tanpa bayangan matahari atau yang dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan sebutan fenomena transit utama.

Fenomena ini dialami dua kali setiap tahunnya oleh orang-orang yang hidup di antara 23,5 derajat garis lintang selatan dan 23,5 derajat lintang utara. Di Indonesia, fenomena ini akan terjadi di Pontianak. Sedangkan di Amerika akan terjadi di Hawai.

Peristiwa ini akan menghilangkan bayangan apa dan siapa saja saat berdiri di bawah sinar matahari. Hal ini disebabkan karena pada saat itu posisi matahari berada tepat di atas kepala kita.

Itulah beberapa kesimpulan yang bisa kita ambil dari penjelasan di atas. Aneh memang, akan tetapi peristiwa ini cukup mencengangkan, meskipun memang kejadiannya tidak berlangsung dalam waktu yang lama.

Dengan adanya fenomena ini maka jelas sudah bahwa pepatah yang mengatakan “bayangan kita tidak pernah meninggalkan kita” ternyata salah. Ada kalanya kita dimana kita tidak bisa menemukan bayangan kita. Wah, cukup menarik sih. Iya nggak?

Untuk anda yang merasa penasaran untuk mencoba membuktikan kebenaran fenomena ini, anda masih sempat kok berangkat ke pontianak untuk melihat dan membuktikannya, karena masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum tanggal 21 Maret. Gimana? Tertarik nggak? 

Dan untuk anda yang tinggal di daerah khatulistiwa, jangan lupa mengabadikan fenomena ini ya, kemudian share ke media sosial supaya orang tahu kalau fenomena ini benar-benar ada. Yakin deh, begitu anda share pasti bakalan banyak yang menuliskan komentar mereka di kolom komentar anda. Tidak percaya? Cobain deh.