Mencium Makanan Bisa Menyebabkan Kegemukan, Mungkin Nggak Sih?

Mencium Makanan Bisa Menyebabkan Kegemukan, Mungkin Nggak Sih?

Tahukah anda pertanyaan apa yang paling tidak disukai oleh seorang wanita, yang bahkan tak jarang bisa membuat mereka marah? Ayo coba tebak apa? Yap, jawabannya adalah pertanyaan yang menanyakan “berat badan” mereka.

Seperti yang anda ketahui, wanita adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap segala sesuatu. Sampai-sampai daun putri malu saja kalah sensitif dari wanita. Apalagi jika ada yang mengatai mereka “mulai gendut” dan semacamnya. Kalau anda perempuan dan memiliki bobot tubuh yang lebih, anda pasti bisa mengerti hal ini. Betul tidak? 

Penampilan adalah salah satu hal penting untuk para wanita. Itulah sebabnya mengapa kata-kata “gendut” sangat anti bagi mereka, karena mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang buruk.

Untuk mendapatkan tubuh yang ideal alias tidak gemuk, perempuan akan melakukan apapun demi mendapatkannya, seperti misalnya melakukan sejumlah olahraga berat, diet ketat dan masih banyak lagi cara-cara lain yang bisa mereka lakukan.

Membahas tentang bobot tubuh, kegemukan dan sebagainya yang berkaitan dengan kenaikan berat badan, berikut ini ada sebuah informasi menarik, penting dan pastinya perlu untuk anda ketahui. Ya, mana tahu kan bisa membantu anda yang punya kecemasan terhadap berat badan.

Efek Mencium Makanan Terhadap Kegemukan

Percayakah anda kalau hanya dengan mencium makanan saja bisa membuat berat badan anda naik? Terdengar sedikit aneh memang atau bahkan banyak dari anda yang berpikir kalau hal tersebut tidak mungkin terjadi. Tapi sebuah penelitian mencoba membuktikan kebenaran hal tersebut.

Sekelompok tim peneliti baru-baru ini membuat sebuah penemuan yang mengejutkan. Tikus yang tidak bisa mencium bau makanannya diketahui tidak mengalami kenaikan bobot tubuh (bertambah gemuk). Studi baru tersebut mengeksplorasi beberapa alasan di balik fakta ini.

Periset yang dipimpin oleh Andrew Dillin, yang tidak lain adalah seorang profesor biologi molekuler dan sel di University of California, Berkeley, merasa terkejut saat mengetahui hasil penelitian yang mereka dapat ternyata menunjukkan bahwa tikus yang tidak memiliki indera penciuman tidak menjadi gemuk, meskipun diberi makanan yang tinggi lemak.

Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan di dalam jurnal Cell Metabolism. Temuan mereka berhasil menunjukkan adanya hubungan yang tidak diketahui sebelumnya antara neuron penciuman dan penambahan berat badan.

Seperti yang telah disampaikan oleh penulis, indra penciuman manusia bersama dengan bau-bauan yang berasal dari lingkungan, bisa membantu kita untuk memilih dan lebih menghargai makanan.

Biasanya, rasa yang berasal dari indera penciuman dan rasa dari makanan itu sendiri akan meningkat sebelum anda memakannya dan cenderung menurun sesudahnya.

Namun, peran fisiologis dari kegiatan mencium makanan serta bagaimana hal tersebut bisa berkontribusi terhadap keseimbangan energi secara keseluruhan masih belum sepenuhnya dipahami.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hal ini, Prof. Dillin dan rekannya melakukan percobaan dengan menjadikan tikus sebagai model percobaannya.

Tikus tersebut kemudian direkayasa secara genetis untuk kekurangan reseptor neuron penciuman, yaitu sel-sel yang melapisi rongga hidung, yang bertanggung jawab untuk mengirimkan informasi penciuman ke otak.

Selain itu, mereka juga melihat “homeostatis energi” pada tikus, yaitu keseimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan energi yang dikeluarkan.

Mengapa Percobaan Ini Harus Menggunakan Tikus?

Sebagai salah satu hewan yang sering dijadikan sebagai bahan percobaan para periset, hewan pengerat yang dikenal dengan nama tikus ini ternyata memiliki kemampuan indera yang luar biasa, yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh anda.

Adapun kemampuan indera yang dimiliki oleh hewan ini, antara lain:

  • Indera Penglihatan (Mata)

Tikus memiliki kemampuan indera penglihatan yang kurang berkembang dengan baik. Tapi mereka mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap cahaya dan mampu mengenali bentuk benda sekalipun dalam cahaya remang.

Pada jarak 10 meter, tikus masih dapat mengenali bentuk benda yang ada didepannya dan bisa mencium sampai jarak 15 meter. Tidak bisa dipungkiri memang kalau tikus adalah hewan yang buta warna, sebagian warna yang bisa ditangkap oleh hewan ini sebagian besarnya berwarna kelabu.

Akan tetapi, mereka memiliki kecenderungan lebih tertarik pada warna kuning dan hijau terang, yang biasanya mereka tangkap sebagai warna kelabu yang cerah.

  • Indera Penciuman (Hidung)

Indera penciuman hewan ini berkembang dengan sangat baik, yang mereka tunjukkan dengan aktivitas menggerakkan kepala serta mengendus pada saat mencium bau pakan, keberadaan tikus lain, atau musuh (predator) mereka.

Kemampuan ini juga bermanfaat untuk mencium urine tikus lainnya. Tikus juga dapat menandai wilayah pergerakan dari tikus lainnya, mengenali jejak tikus yang masih tergolong kelompoknya, serta mendeteksi tikus betina yang sedang estrus.

  • Indera Pendengaran (Telinga)

Sama halnya seperti indera penciuman, tikus juga memiliki indera pendengaran yang sangat baik. Tikus sangat tanggap terhadap akustik dan suara ultrasonik, yang biasa digunakan oleh tikus untuk melakukan komunikasi sosial, misalkan saat aktivitas seksual atau berkelahi dengan tikus lain.

Anak tikus umumnya akan mengeluarkan suara ultrasonik ini pada saat mereka kehilangan induknya, sehingga sang induk yang mendengar suara tersebut akan mencari anaknya. Sedangkan untuk anak tikus yang baru lahir, biasanya mereka mengeluarkan suara ultrasonik sebagai reaksi pada lingkungan baru yang dingin.

  • Indera Perasa (Lidah)

Indera selanjutnya adalah indera perasa, yang berkembang dengan sangat baik. Tikus mampu membedakan atau mendeteksi zat-zat yang yang berasa pahit, bersifat tosik atau berasa tidak enak, yang biasanya diletak di atas umpan beracun.

  • Indera Peraba (Sentuhan)

Tikus memiliki indera peraba yang sangat membantu pergerakan tikus ditengah kegelapan. Rambut – rambut halus dan panjang yang tumbuh pada bagian lateral dan ventral tubuhnya (Vibrissae) dapat digunakan untuk meraba dan memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi.

Bentuk rabaan bisa berupa sentuhan dengan lantai, dinding atau benda-benda yang ada didekatnya. Hal ini dapat membantu menentukan arah dan memberi tanda bahaya jika ada rintangan didepan mereka.

Hasil Penelitian Dengan Menggunakan Tikus Tanpa Indera Penciuman

Penjelasan paling intuitif mengapa tikus tanpa indra penciuman cenderung tidak mengalami penambahan berat badan adalah dikarenakan hewan tersebut memiliki kebiasaan tidak banyak mengkonsumsi makanan. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan kemampuan penciuman mereka yang dikurangi atau dihilangkan.

Prof. Dillin dan rekan-rekannya mencoba membandingkan asupan makanan tikus tanpa indra penciuman dengan tikus kontrol, dengan tujuan untuk menemukan sebuah fakta apakah tikus yang masih memiliki indera penciuman memiliki selera makan yang berbeda dengan yang sudah kehilangan indera penciumannya.

Selain itu, tim periset ini juga menemukan perbedaan potensial antara seberapa baik nutrisi yang diserap dan yang diekskresikan oleh tikus tersebut. Bukan hanya itu saja, mereka juga meneliti efek yang timbul ketika tikus kehilangan rasa penciuman mereka setelah mereka gemuk.

Sebagai contoh, dua ekor tikus yang telah diberi makan makanan yang tinggi lemak yang sama, didapati telah menjadi lebih gemuk dari yang sebelumnya.

Satu dari kedua tikus itu kemudiandihilangkan indra penciumannya dan diberi makanan yang sama dengan tikus lainnya. Dan tahukah anda apa yang terjadi? 

Bobot tikus yang kehilangan indera penciuman tersebut menurun sekitar sepertiga dari berat awalnya, yang mencapai sekitar 33 gram. Sebaliknya, mouse yang mempertahankan indera penciumannya juga menahan berat 49 gram.

Prof. Dillin dan timnya kemudian menyelidiki kembali apakah mereka bisa mendapatkan hasil temuan yang sama pada model tikus yang kedua. Pada model yang kedua ini, para peneliti menggunakan virus yang bisa membunuh neuron penciuman saat dihirup.

Prosedur kali ini dianggap lebih tepat untuk dilakukan daripada yang digunakan pada model tikus yang pertama, karena para peneliti khawatir kalau-kalau obat yang digunakan pada percobaan awal tersebut tidak hanya akan memusnahkan neuron sensorik penciuman saja.

Model tikus kedua ini ternyata mengungkapkan hasil yang sangat mirip dengan model yang pertama tadi.

Peranan Indera Penciuman Terhadap Ekskresi Energi

Prof. Dillin bersama dengan rekannya juga mulai menyelidiki peran indera penciuman terhadap pengeluaran energi, dimana mereka menemukan kaitannya dengan lemak putih, lemak coklat, dan gangguan penciuman.

Para peneliti menemukan bahwa “peningkatan pengeluaran energi dan peningkatan kapasitas pembakaran lemak” adalah konsekuensi dari aktivitas saraf simpatik yang meningkat.

Sistem saraf simpatik biasanya bertugas membantu tubuh mengendalikan respons “fight-or-flight” terhadap situasi yang dianggap berbahaya, serta respons terhadap suhu yang ekstrim.

Dalam situasi ekstrim seperti itu, tubuh biasanya akan melepaskan adrenalin. Dan seperti yang dijelaskan oleh Prof. Dillin, adrenalin diketahui mampu mengaktifkan “aktivitas pembakaran lemak, terutama lemak cokelat”.

Para periset juga percaya bahwa tidak adanya indera penciuman akan meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik. Hasil ini diperoleh setelah mereka menemukan kadar adrenalin yang tinggi pada darah tikus.

Tikus tanpa indra penciuman ternyata bisa membakar lemak coklat jauh lebih cepat dan mengubah lemak putih menjadi coklat.

“Tikus yang tidak memiliki indra penciuman bisa menyalakan sebuah program untuk membakar lemak,” kata Prof. Dillin.

Lemak putih dan lemak coklat menjalankan berbagai fungsi yang berbeda dan bertolak belakang, dimana lemak putih berfungsi untuk menyimpan energi, sementara lemak coklat mengeluarkannya. 

Pada penelitian sebelumnya, mengubah lemak putih menjadi coklat sering kali dikaitkan dengan indeks massa tubuh bagian bawah (BMI) dan telah diusulkan sebagai strategi yang baik dalam memerangi obesitas.

Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, apa arti atau makna dari temuan ini sebenarnya?

Para periset mengatakan bahwa jika hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini bisa direplikasi atai diaplikasikan dalam percobaan manusia, maka perawatan baru bisa diciptakan untuk mereka yang memiliki gangguan makan.

Orang dengan gangguan makan biasanya sulit untuk mengendalikan selera mereka terhadap makanan yang mereka makan. Mereka juga sering menginginkan jenis makanan tertentu. Hal ini dikemukakan oleh rekan penulis studi yang bernama Céline Riera, dari Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles, CA.

Karena neuron penciuman sangat penting untuk mengendalikan kesenangan terhadap makanan, anda perlu menemukan cara untuk memodulasinya, sehingga anda bisa memblokir hasrat anda dan membantu anda mengelola asupan makanan.

Selanjutnya, para periset berencana untuk memeriksa jalur saraf mana yang bertanggung jawab atas hubungan antara neuron penciuman dan sistem saraf simpatik tersebut. Semoga saja penelitian yang akan dilakukan tersebut bisa berjalan dengan baik.

Setelah membaca penjelasan di atas, masihkan anda mau melakukan kebiasaan mencium makanan anda sebelum menyantapnya? Kalau anda tidak mau gemuk, maka jangan lakukan. Tapi jika sebaliknya, maka lakukan lah.

Kesimpulan

Setiap orang memiliki kebiasaan makan yang berbeda-beda. Ada yang mencium makanannya terlebih dahulu baru menyantap makanannya. Ada pula yang memilih untuk langsung saja menyantapnya. Awalnya sih itu sah-sah saja untuk dilakukan.

Akan tetapi, penelitian yang dilakukan oleh sekelompok periset berhasil membuktikan adanya pengaruh kebiasaan mencium makanan tersebut terhadap kenaikan berat badan atau kegemukan.

Penelitian ini memang masih dilakukan pada tikus. Namun, jika memungkinkan, mereka akan mencobanya pada manusia. Kalau berhasil, besar kemungkinan para peneliti tersebut bisa menciptakan cara atau perawatan khusus untuk orang-orang yang memiliki gangguan makan.