Mengapa Menguap Bisa Menular? Ilmuwan Ini Punya Jawabannya

Mengapa Menguap Bisa Menular? Ilmuwan Ini Punya Jawabannya

Pernahkah anda bertanya-tanya, mengapa ketika melihat seseorang sedang menguap, kita juga akan ikut menguap? Sekalipun anda mencoba untuk menolaknya, rasa-rasanya sangat sulit untuk tidak melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh orang tersebut. Benar tidak? Anda pasti pernah merasakan hal ini, bukan?

Kalau tidak percaya, coba perhatikan seseorang di samping atau sekitar anda yang sedang menguap dan cobalah untuk melawan agar anda tidak ikut menguap. Sulit bukan? Kebanyakan orang tidak akan bisa melawannya.

Atau begini saja, kalau memang anda masih tidak percaya, coba perhatikan gambar di bawah ini:

Gimana? Sudah mengerti kan maksudnya? Jangankan melihat orang menguap, membaca tulisan ini saja bisa membuat anda ikut-ikutan menguap lho. Ya, sama seperti yang sekarang sedang anda alami.

Aneh memang, tapi fenomena ini memang benar-benar terjadi guys. Anda sudah merasakannya sendiri kan? Jadi, tidak ada alasan lain yang membuat anda tidak percaya lagi sekarang.

Karena sekarang anda sudah mempercayainya, apakah anda tidak penasaran dengan bagaimama fenomena unik ini bisa terjadi? Kalau memang anda merasa penasaran dan ingin tahu, anda bisa melihat penjelasannya di bawah ini.

Apakah Menguap Bisa Menular?

Jika pertanyaan anda sama seperti pertanyaan di atas, maka jawabannya adalah “iya, menguap bisa menular“. Siapa sangka, ternyata sesuatu yang menular tidak selalu berkaitan dengan penyakit.

Kebiasaan dan aktivitas tertentu juga bisa menular dari satu orang ke orang yang lainnya. Hanya saja bedanya hal ini tidak se-berbahaya penularan penyakit seperti yang anda bayangkan.

Salah satu aktivitas atau kebiasaan menular yang dimaksud tersebut adalah ‘menguap’. Masyarakat umumnya menganggap bahwa menguap merupakan tanda seseorang yang sedang mengantuk atau kurang tidur.

Setujukah anda dengan persepsi tersebut? Untuk yang satu ini, banyak ahli yang masih memperdebatkan jawabannya, sehingga melahirkan banyak teori yang berbeda-beda.

Studi Tentang Fenomena Menguap Yang Menular

Menguap adalah sebuah gerak refleks pernapasan yang terjadi secara simultan, disertai dengan peregangan gendang telinga, yang kemudian diakhiri dengan penghembusan napas.

Ketika anda sedang merasa bosan atau lelah, pernapasan biasanya akan melambat dan menyebabkan penyerapan oksigen menjadi lebih sedikit. Hal inilah yang kemudian akan memicu anda untuk menguap, yaitu dengan tujuan untuk membantu anda bernapas atau menghirup oksigen yang lebih banyak.

Beberapa ahli juga percaya bahwa fenomena menguap ini merupakan salah satu cara untuk mendinginkan otak atau menghindari pemanasan otak. Oleh karena itu, tidak usah heran jika anda melihat banyak orang yang menguap pada musim panas dibandingkan di waktu musim dingin.

Selain membantu untuk mendinginkan otak, ada fakta lain yang jauh lebih menarik untuk anda ketahui tentang fenomena menguap ini, yaitu sebuah fakta bahwasannya menguap merupakan sesuatu yang bersifat menular. Jadi ketika satu orang menguap, maka orang lain yang berada di dekatnya juga akan menguap.

Berikut ini adalah beberapa studi yang sudah membuktikannya.

  • Penelitian di Jepang

Nah, dalam hal ini banyak yang bingung dan bertanya-tanya mengapa seseorang bisa menularkan gerak refleks ini. Bukan hanya masyarakat. Para ahli juga sibuk untuk mencari jawabannya. Salah satunya adalah para periset dari Universitas Tohoku di Jepang.

Mereka berhasil menemukan bahwa hal tersebut lebih berkaitan dengan persepsi sensitivitas (kepekaan) daripada hubungannya dengan empati yang katanya juga memiliki pengaruh untuk membuat seseorang menguap.

Penelitian ini dilakukan dengan cara memperlihatkan atau menunjukkan beberapa foto orang yang sedang menguap kepada subjek penelitian. Kamera yang tersebunyi akan mengamati setiap peserta, sementara sebuah mesin khusus akan mengikuti gerak mata mereka.

Setiap peserta akan diberikan 60 foto dengan 4 level (tingkatan) menguap yang berbeda intensitasnya. Seluruh subjek penelitaan tersebut harus menilai apakah orang pada gambar tersebut memang sedang menguap atau tidak.

Sebagai kontrol perbandingannya, periset juga menunjukkan 120 foto lainnya kepada peserta tersebut, yang terdiri dari 60 gambar orang yang sedang marah dan yang 60 nya lagi foto orang yang sedang dalam keadaan bahagia.

Selanjutnya mereka diminta untuk mengutarakan pendapat mereka dan menunjukkan apakah orang pada gambar tersebut sedang marah atau dalam keadaan yang bahagia.

Hasil Penelitian Yang Diperoleh

Hasil penelitian yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa, mereka yang melihat gambar orang yang sedang menguap, ternyata cenderung mulai melakukan hal yang sama setelah melihatnya. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena menguap yang bisa menular memang benar adanya.

Sedangkan untuk sensitivitas terhadap gambar wajah yang sedang marah atau bahagia tampaknya tidak berdampak atau berhubungan dengan penularan aktivitas menguap tersebut.

Untuk melihat apakah fenomena unik ini ada kaitannya dengan empati, maka dilakukan pengukuran Quotient Autistic (AQ) pada peserta, dengan menggunakan kuesioner spektrum autisme.

Hal ini juga memiliki sedikit kaitan dengan frekuensi menguap. Menariknya, subjek wanita diketahui memiliki kerentanan yang lebih tinggi untuk penularan ini.

Dr. Chia-huei Tseng, yang merupakan seorang peneliti utama dalam studi ini sekaligus juga seorang profesor di Universitas Tohoku, menjelaskan bahwa pengamatan klinis terbaru yang dilakukan telah menunjukkan bahwa seorang individu dengan autisme atau skizofrenia tidak menguap seperti orang biasa pada umumnya.

Hal inilah yang akhirnya membuat beberapa orang menghubungkan antara kurangnya empati terhadap penularan fenomena menguap (dalam arti, mereka yang memiliki skixofrenia tidak akan terpengaruh pada penularan ini) dan hal ini pula yang mendukung kebenaran studi mereka.

  • Studi di Amerika Serikat

Berlawanan dengan kepercayaan lainnya, sebuah studi baru dari Duke University menunjukkan bahwa penularan fenomena menguap ini tidak terlalu terkait dengan variabel seperti tingkat empati, kelelahan ataupun tingkat energi. 

Studi ini diterbitkan dalam jurnal Plos One. Inilah salah satu studi paling komprehensif untuk meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena tersebut hingga saat ini.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa gerak refleks yang disebut dengan menguap ini penularannya tidak ada hubungannya dengan empati”, kata Elizabeth Cirulli, Ph.D ., yang merupakan salah satu penulis studi ini sekaligus asisten profesor di Center for Human Genome Variation di Duke University School of Medicine.

  • Penelitian Lainnya

Sebuah penelitian dari University of Connecticut pada tahun 2010, menemukan bahwa ternyata sebagian besar anak-anak tidak rentan tertular fenomena ini sampai mereka berusia 4 tahun. Usia ini merupakan usia dimana anak mulai mengembangkan perilaku empati dan mulai mengenali emosi orang lain.

Studi itu juga menyatakan kalau anak-anak dengan autisme cenderung tidak mudah tertular atau ikut menguap jika seseorang di sekitar mereka melakukannya.

Penelitian tersebut melibatkan sekitar 30 anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) yang berusia 6 sampai 15 tahun. Anak-anak dengan gejala yang lebih parah diketahui cenderung menguap lebih banyak daripada mereka yang memiliki diagnosis yang lebih ringan.

Itulah beberapa contoh studi yang telah dilakukan untuk membuktikan bahwa menguap bisa menular. Sebenarnya masih banyak penelitian-penelitian yang lainnya.

Ini hanya lah sebagian contoh untuk mendukung pernyataan yang kami sebutkan di atas tadi, bahwasannya memang jawaban mengapa menguap bisa menular masih belum jelas, karena masing-masing penelitian memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Cara Untuk Berhenti Menguap

Ketika anda merasa akan menguap, maka biarkan hal tersebut terjadi. Jangan pernah menahannya. Gerakan reflek ini tidak akan menyakiti anda. Malahan kalau anda menahannya, akan membuat anda menjadi tidak nyaman.

Ingat kan penjelasan sebelumnya tadi. Menguap merupakan salah satu cara tubuh untuk mendinginkan otak. Jadi, jangan pernah untuk menahannya.

Beda lagi kasusnya kalau anda menguap dalam intensitas yang terlalu banyak. Kalau yang seperti ini, anda bisa mencoba melakukan beberapa cara untuk menghentikannya. Diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Cobalah untuk menarik nafas dalam-dalam

Jika anda merasa menguap terlalu banyak, cobalah untuk latihan pernapasan dalam-dalam melalui hidung. Tubuh anda mungkin membutuhkan oksigen yang lebih banyak. Sebuah studi menemukan kalau pernapasan hidung bisa mengurangi penularannya.

2. Bergerak

Menghentikan rutinitas juga bisa membantu untuk merangsang otak anda. Perasaan lelah, bosan dan stres cenderung membuat orang menguap lebih banyak. Menguap berlebihan juga bisa berasal dari pengkonsumsian kafein yang terlalu banyak dan mengalami detoksifikasi opiat.

3. Buatlah diri anda dalam keadaan yang dejuk, nyaman dan tenang

Anda juga bisa mencoba untuk berjalan-jalan di luar atau mencari tempat dengan suhu yang lebih dingin. Jika anda tidak sempat melakukan hal ini, minumlah air dingin atau makanlah makanan ringan yang dingin, seperti buah-buahan atau wortel bayi.

Perlukah Untuk Memeriksakan Hal Ini Pada Dokter?

Kalau hanya sekedar menguap biasa, rasa-rasanya anda tidak perlu pergi ke dokter. Tapi jika anda merasa bahwa anda menguap terlalu banyak atau berlebihan, yang kemudian disertai dengan gejala-gejala lainnya yang mengganggu anda untuk melakukan aktivitas anda, barulah anda bisa memeriksakannya ke dokter.

Hal ini perlu anda lakukan karena bisa saja gejala yang muncul atau anda alami dari menguap secara berlebihan itu merupakan sebuah tanda dari penyakit tertentu. Beritahu dokter anda sudah berapa lama anda mengalaminya dan gejala lainnya yang juga anda rasakan, seperti misalnya pening, nyeri di daerah tertentu, atau bahkan kurang tidur.

Informasi ini akan sangat membantu dokter untuk mendiagnosa kondisi anda, sehingga ia bisa membuat rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan individu.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, anda bisa melihat bahwasannya ada banyak sekali teori yang membahas tentang mengapa menguap bisa menular. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa ini merupakah cara tubuh untuk mengatur suhu otak.

Seorang psikolog yang bernama Andrew Gallup adalah salah satu orang yang berpendapat sama, yaitu bahwa alasan seseorang menguap adalah untuk mendinginkan otak seperti yang disebutkan di atas. Ada pula yang berpendapat bahwa hal tersebut berkaitan dengan empati seseorang.

Tapi meskipun demikian, hingga saat ini apa yang menjadi penyebab seseorang menguap tepatnya masih merupakan sebuah misteri.

Sebuah studi pada tahun 2016 yang berasal dari Universitas Negeri New York menemukan adanya hubungan yang mencolok antara fenomena menguap dengan ukuran otak seseorang. Tapi kebenarannya juga masih simpang siur.

Menurut penelitian ini, ukuran otak ini mungkin saja terkait dengan panjangnya uapan yang dilakukan. Makhluk dengan otak yang lebih kecil, seperti gorilla dan gajah, memiliki kecenderungan untuk menguap dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan manusia.

Lantas bagaimana menurut anda? Apakah anda punya pendapat senderi mengenai fenomena ini?