Miris, Beberapa Hewan Laut Ini Hidup Dengan Memakan Plastik

Miris, Beberapa Hewan Laut Ini Hidup Dengan Memakan Plastik

Setujukah anda jika kami mengatakan kalau kehidupan manusia sampai dengan saat ini tidak bisa terlepas dari plastik? Tidak usah jauh-jauh, anda bisa melihat bukti nyatanya di dalam kehidupan sehari-hari anda. Bisakah anda menyebutkan ada berapa banyak benda-benda di sekitar anda yang berbahan plastik?

Wah, pasti banyak sekali, bukan? Tidak bisa kita pungkiri memang, kalau penggunaan plastik dalam sejumlah peralatan rumah tangga cukup bermanfaat bagi kehidupan kita. Selain harganya yang relatif murah, bahan plastik ini juga lebih tahan banting, jika dibandingkan dengan peralatan kaca yang diketahui sangat mudah pecah.

Inilah yang menjadi bahan pertimbangan para ibu rumah tangga dan masyarakat lainnya untuk lebih memilih menggunakan barang-barang berbahan plastik. Tapi sayangnya, penggunaan plastik ini ternyata tak sebaik yang kita pikirkan.

Melihat banyaknya permintaan akan bahan tersebut, beberapa perusahaan plastik pun memanfaatkannya untuk berbuat curang dengan menciptakan bahan-bahan plastik berbahaya, yang diciptakan dengan campuran bahan kimia yang bisa menimbulkan berbagai penyakit berbahaya termasuk kanker.

Selain itu, dampak negatif lain terkait dengan penggunaan bahan-bahan plastik ini adalah masalah pencemaran lingkungan, terutama di laut. Rendahnya kesadaran manusia (suka membuang sampah sembarangan ke laut) telah membuat banyak laut di dunia menjadi tercemar dan ini merupakan hal yang sangat memprihatinkan.

Dikatakan memprihatinkan, karena perlu anda ketahui, ketidakpedulian kita sebagai pelaku yang sering membuang sampah plastik ke laut tidak hanya akan mengurangi keindahan laut tersebut, tapi juga menyebabkan pencemaran air yang mengganggu ekosistem laut, yang tanpa anda sadari juga berefek pada kesehatan anda.

Kok bisa sampai berdampak ke kesehatan kita sih? Ngawur ahk. Kan nggak ada hubungannya sampah plastik yang ada di laut dengan kita yang tinggal jauh dari laut? Lagian kami kan jarang main-main ke laut?

Apakah pertanyaan ini yang sekarang sedang anda pikirkan? Kalau memang iya, kami akan segera memberikan penjelasan mengenai bagaimana efek negatif dari sampah plastik di laut bisa mempengaruhi kesehatan anda, sekalipun anda tidak pernah bermain ke laut. Sudah siapkah anda untuk menerima pengetahuan dari kami ini?

Hewan Laut Hidup Dengan Mengkonsumsi Sampah Plastik

Plastik merupakan salah bahan sintetis yang terbuat dari berbagai polimer organik, seperti polietilena, PVC, nilon dan lain sebagainya, yang dapat dibentuk menjadi bentuk yang kaku tapi sedikit lebih elastis. Karena mengandung sejumlah bahan kimia, plastik sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup, termasuk juga hewan.

Tapi pada kenyataannya, banyak hewan laut yang ternyata hidup dengan mengkonsumsi sampah plastik yang dibuang ke laut. Bagi mereka, plastik tak hanya terlihat seperti makanan, tapi baunya pun sudah tercium seperti makanan untuk sejumlah hewan laut tersebut.

Jangan tanyakan kenapa hal seperti ini bisa sampai terjadi, karena sejujurnya anda pasti tahu apa jawabannya saat anda merenungkannya sejenak. Itu bukan salah siapa-siapa. Hal tersebut terjadi sebagian besarnya disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri, termasuk kita.

Seringnya hewan-hewan yang hidup di laut dan sekitarnya ini terpapar oleh banyaknya sampah plastik membuat mereka menjadi terbiasa dan menganggap sampah tersebut sebagai makanan yang bisa mereka konsumsi. Masalah ini semakin diperjelas oleh seorang naturalis yang bernama David Attenborough.

Di dalam sebuah wawancara, dia menceritakan pengalamannya yang suatu hari melihat seekor burung albatross yang baru tiba di sarangnya untuk memberi makan anak-anaknya. Saat mengeluarkan makanan yang dibawanya (diletakkan di dalam paruhnya) hal yang cukup menarik pun terjadi.

Bisakah anda menebak apa yang dikeluarkan dari dalam paruhnya? Burung tersebut ternyata tidak membawa ikan atau pun cumi-cumi yang layak dimakan oleh anak-anaknya, melainkan sampah plastik. Itulah makanan yang mereka konsumsi. Bukan karena pasokan ikan yang sedikit, tapi kemungkinan karena jumlah sampah plastik tersebut jauh lebih banyak.

Memilukan sekali bukan? Coba bayangkan, burung ini harus mencari makanan sejauh ribuan kilometer dan berharap bisa membawakan anaknya makanan saat kembali ke sarang. Tapi apa yang terjadi? Mereka tertipu pada sampah plastik yang mengambang di atas air laut. Itulah yang pada akhinya dibawanya pulang oleh burung tersebut.

Bagaimana burung-burung berkemampuan seperti itu dapat dengan mudah tertipu dan kembali dari perburuan panjang mereka hanya dengan seteguk plastik? Aneh sekali bukan? 

Mirisnya lagi, ternyata bukan albatros saja yang melakukan hal seperti itu. Setidaknya ada 180 spesies hewan laut yang telah didokumentasikan mengkonsumsi plastik, mulai dari plankton kecil hingga paus raksasa.

Plastik telah ditemukan di dalam nyaris sepertiga ikan yang ditangkap di Inggris, termasuk spesies yang biasa kita konsumsi sebagai makanan sehari-hari. Selain ikan, sampah plastik juga ditemukan di dalam tubuh kerang dan lobster. Dengan kata lain, hewan dari segala bentuk dan ukuran yang hidup di laut diketahui telah mengkonsumsi plastik.

Dengan sekitar 12,7 juta ton barang atau sampah yang masuk ke lautan setiap tahunnya, harusnya ada banyak hal yang harus dilakukan, supaya sampah plastik tersebut tidak merusak ekosistem dan tidak menimbulkan dampak negatif untuk makhluk hidup yang berada di sekitarnya, termasuk manusia.

Penyebab Banyaknya Hewan Laut Memakan Plastik

Prevalensi (proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu) konsumsi plastik sebagian besarnya merupakan konsekuensi dari banyaknya jumlah penggunaan bahan-bahan plastik itu sendiri dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bahkan zooplankton sekalipun bisa terkena dampaknya. Hewan kecil ini juga diketahui mengkonsumsi sejumlah plastik berukuran kecil (konsentrasi partikel plastik kecil di dalam air).

Menurut seorang ahli ekologi plankton di Institite of Ocean Sciences, Kanada yang bernama Moira Galbraith, jika partikel yang sangat kecil jatuh ke dalam air, maka plankton akan menganggapnya sebagai makanan dan kemudian memakannya. Jadi tak heran jika hewan laut yang sangat kecil ini juga terkena paparan dari sampah plastik yang ada di laut.

Seperti halnya zooplankton, makhluk-makhluk bertubuh silindris dan bertentakel yang dikenal sebagai teripang sepertinya tidak tampak terlalu rewel tentang apa yang harus mereka makan saat mereka merangkak di sekitar hamparan samudera. Mereka biasanya memasukkan sedimen (seperti pecahan bebatuan) ke dalam mulut mereka.

Setelah sedimen tersebut masuk, hewan ini kemudian akan mengekstrak bahan makanan yang dapat dimakan di dalamnya. Ternyata saat diteliti, sebuah analisis menunjukkan bahwa hewan penghuni bawah laut ini bisa mengkonsumsi hingga 138 kali lebih banyak sampah plastik, mengingat memang sejumlah sampah akan terdistribusi ke dalam sedimen.

Untuk hewan laut teripang, partikel plastik mungkin lebih besar dan lebih mudah untuk diambil dengan tentakel makan mereka, daripada makanan yang lebih konvensional. Tetapi pada spesies lain, sepertinya ada indikasi bahwa konsumsi plastik lebih dari sekedar proses pasif. Banyak hewan tampaknya memang senagaja memilih makanan ini.

Mengapa Hewan Laut Suka Memasukkan Plastik Ke Mulutnya?

Untuk memahami alasan mengapa beberapa hewan laut ini melihat dan menganggap plastik sebagai makanan yang sangat menarik, maka anda perlu mengetahui cara pandang mereka.

“Hewan memiliki kemampuan inderawi dan perseptif yang sangat berbeda dengan manusia. Dalam beberapa kasus, mereka lebih baik dan dalam beberapa kasus yang lainnya mereka lebih buruk. Tetapi dalam semua kasus mereka memang berbeda dari kita”, kata Matthew Savoca di NOAA Southwest Fisheries Science Center di Monterey, California.

Salah satu penjelasan sederhana terkait dengan hal tersebut adalah dikarenakan makhluk-makhluk laut melakukan kesalahan dalam melihat plastik yang ditemukan di habitat mereka. Kebanyakan dari hewan ini menganggap bahwa plastik adalah makanan yang bisa mereka konsumsi, sama seperti jenis makanan yang sering mereka makan sebelumnya.

Misalnya saja pelet plastik yang dianggap menyerupai telur ikan yang lezat. Merekamemiliki kemampuan yang berbeda dengan manusia yang bisa menyadari dan membedakan mana makanan dan plastik. Itulah salah satu alasan mengapa hewan laut ini banyak yang mengkonsumsi sampah tersebut.

Manusia adalah makhluk visual yang ketika mencari makan biasanya akan bergantung pada indera penciuman. Tak hanya manusia, sejumlah hewan laut juga melakukan hal yang sama, seperti burung albatross contohnya.

Savoca bersama dengan rekan-rekannya telah melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa beberapa spesies burung laut dan ikan ternyata memang tertarik pada plastik karena bau yang dimilikinya, terutama pada dimethyl sulfide (DMS), yaitu senyawa pada plastik yang dikenal dapat menarik perhatian burung.

Pada dasarnya, ganggang tumbuh di plastik yang mengambang di laut. Ketika ganggang tersebut dimakan oleh krill, yaitu sumber makanan utama hewan laut, ia akan melepaskan DMS, yang menarik burung dan ikan untuk mengunyah plastik tersebut. Tadinya mereka berharap akan mendapatkan krill, tapi ternyata yang mereka makan hanyalah sampah plastik.

Selain dengan indera penciuman, ketertarikan makhluk hidup terhadap makanan juga didapat dari kemampuan visualnya.  Sama seperti manusia, kura-kura laut sangatlah bergantung pada visi mereka untuk mencari makanan. Namun, mereka juga dianggap memiliki kemampuan untuk melihat sinar UV, sehingga membuat visi mereka sangat berbeda dari manusia.

Qamar Schuyler di The University of Queensland, Australia, mempraktekkan dirinya seperti seekor kura-kura dengan masuk ke kepala kura-kura dengan memodelkan kapabilitas visual mereka dan kemudian mengukur karakteristik visual dari plastik saat kura-kura melihatnya.

Tak hanya itu, dia juga memeriksa isi perut kura-kura yang sudah meninggal untuk melihat atau memeriksa apakah terdapat sampah barang-barang plastik di dalamnya atau tidak

Dari hasil penelitian yang Dia dapatkan, dia pun menarik sebuah kesimpulan, yaitu bahwa kura-kura muda umumnya relatif tidak pandang bulu soal makanan. Sedangkan kura-kura yang lebih tua lebih suka mengincar plastik yang lunak dan tembus cahaya.

Schuyler berpendapat bahwa hasil yang mereka dapatkan tersebut secara tidak langsung membenarkan gagasan lama yang mengatakan bahwa kemungkinan kura-kura salah mengira tas plastik sebagai ubur-ubur yang lezat.

Warna juga dianggap sebagai faktor penyebab hewan laut suka mengkonsumsi plastik, meskipun preferensi bervariasi antar spesies. Penyu muda lebih menyukai plastik putih. selain itu Schuyler dan koleganya juga menemukan bahwa burung laut yang disebut shearwaters lebih memilih plastik berwarna merah.

Selain penglihatan dan penciuman, ada pula indera lain yang sangat berperan dan digunakan oleh hewan untuk mencari makanan. Banyak hewan laut berburu dengan echolocation, terutama paus dan lumba-lumba bergigi. Echolocation ini dikenal sangat sensitif.

Tapi anehnya, lusinan paus jantan dan bergigi ditemukan mati dengan perut penuh dengan kantong plastik, bagian mobil dan detritus manusia lainnya. Savoca mengatakan bahwa kemungkinan echolocation mereka salah mengidentifikasi benda-benda ini sebagai makanan.

Jika anda menganggap mereka adalah hewan yang bodoh, maka anda keliru jika mengatakan hal semacam itu. Jelas hal itu tidak benar.

“Tragedi yang terjadi adalah bahwa semua hewan laut tersebut merupakan pemburu dan penjelajah ulung, yang memiliki indera yang diasah selama ribuan evolusi untuk menargetkan mangsa mereka. Plastik benar-benar hanyalah sebagian kecil dari waktu itu. Entah bagaimana caranya benda ini bisa teridentifikasi sebagai makanan” kata Schuyler.

Apa Solusi Terbaik Untuk Mengatasi Hal Ini?

Plastik memang sangat berguna untuk kehidupan manusia, sehingga rasanya akan sangat sulit jika kita meminta produksinya untuk dihentikan. Iya nggak? Cara seperti ini tampaknya sangat tidak fair untuk sebagian orang, terutama untuk para pengusaha plastik.

Schuyler ingat dengan seseorang yang bertanya, “mengapa kita tidak membuat semua plastik berwarna biru saja?”, mengingat eksperimen menunjukkan warna ini kurang populer di kalangan kura-kura. Tetapi masalahnya adalah penelitian lain menunjukkan bahwa untuk spesies lain, warna biru sangatlah menarik.

Lantas, apa solusi paling terbaik supaya hewan-hewan laut tersebut tak lagi mengkonsumsi plastik?

Tidak ada aspek plastik yang dapat kita ubah dengan mudah untuk mencegah hewan memakannya. Sebenarnya, bukan plastik yang menjadi masalahnya di sini. Tapi manusia yang menggunakannya. Kalau saja manusia tidak membuang sampah plastiknya di laut atau dimanapun, tentu hal seperti ini bisa diminimalkan.

Savoca berharap kisah tragis seperti albatros dan hewan laut lainnya ini bisa membantu menyadarkan kita akan bahayanya pembuangan plastik sembarangan. Kami juga berharap kita bisa menunjukkan empati kita kepada hewan-hewan ini dengan cara bersama-sama menumbuhkan kesadaran diri akan penting membuang sampah pada tempatnya.

Tapi yang pasti, tempatnya bukan di laut ya, guys. Hilangkan rasa cuek anda mulai dari sekarang. Jangan berpikir kalau hal ini hanya akan merugikan makhluk laut saja dan tidak berdampak pada anda. Tentu saja hal ini bisa memberikan efek kepada kehidupan kita. Bagaimana kalau ternyata selama ini ikan atau makanan laut yang anda makan mengandung plastik?

Sesekali mungkin tidak akan mengakibatkan dampak yang besar. Tapi kan rasanya tidak mungkin anda hanya memakan ikan setahun sekali? Jadi, bayangkan jika anda memakan ikan yang telah mengkonsumsi plastik setiap harinya, apa yang akan terjadi pada tubuh anda?

Nah, jika tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kesehatan anda, maka mulailah melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat dari sekarang. Maukah anda melakukannya?