Peneliti Berhasil Ciptakan ‘Mesin Pintar’ Yang Bisa Identifikasi Wajah Homoseksual, Mau Coba?

Peneliti Berhasil Ciptakan ‘Mesin Pintar’ Yang Bisa Identifikasi Wajah Homoseksual, Mau Coba?

Bicara tentang kecerdasan buatan, tentu saja tidak lepas kaitannya dengan perkembangan teknologi. Coba sebutkan, jenis kecerdasan buatan yang seperti apa saja yang sudah anda ketahui hingga saat ini. Pasti banyak sekali, bukan?

Untuk hal kemampuan, teknologi yang disematkan di dalam AI memang tidak bisa dianggap remeh. Tahu kenapa? Karena mereka memiliki kemampuan yang bahkan manusia tidak akan bisa lakukan, terutama dalam kecepatan pengolahan data.

Kalau beberapa waktu yang lalu, terdengar kabar bahwasannya banyak negara yang ingin memanfaatkan mesin pintar ini untuk keperluan perang yang kemungkinan besar akan terjadi di kedepannya, kini informasi terbaru yang akan kami sampaikan di dalam artikel ini tak kalah menakjubkan dari yang ada sebelum-sebelumnya, lho guys.

Nggak percaya? Langsung saja yuk baca penjelasannya di bawah ini:

Menganalisa Orientasi Seksual

Di era moderen seperti sekarang ini, masyarakat terus berlomba-lomba untuk mendapatkan status sosial. Yang dimaksud dengan status sosial di sini adalah mendapat pengakuan dari masyarakat.

Dan seperti yang bisa anda lihat sendiri, beberapa orang yang memiliki kelainan pada orientasi seksual juga tengah memperjuangkan status mereka di masyarakat. Bahkan hal ini tidak lagi dianggap sebagai hal yang tabu oleh sebagian orang, bahkan negara.

Kalau di Negara Barat, penyimpangan orientasi seksual sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau lumrah.

Pengertian Orientasi Seksual

Orientasi seksual atau yang biasa disebut sebagai kecenderungan seksual merupakan sebuah pola ketertarikan seksual, romantis, atau emosional (atau mungkin kombinasi dari keseluruhan), terhadap orang-orang dari lawan jenis atau gender, jenis kelamin yang sama atau gender, atau bahkan ada yang tertarik pada kedua jenis kelamin atau lebih dari satu gender.

Jika anda kesulitan untuk mengerti makna penjelasan di atas, intinya adalah orientasi seksual ini umumnya digolongkan menjadi beberapa jenis, yaitu: heteroseksual, homoseksual dan biseksual.

Ada juga istilah aseksual (kurangnya ketertarikan seksual kepada orang lain), yang terkadang diidentifikasi sebagai kategori atau jenis keempat.

Alfred Kinsey yang pernah melakukan penelitian terhadap orientasi seksual seseorang terhadap sesama gender atau lain gender pada tahun 1948 yang lalu, mengatakan kalau hal tersebut bukanlah sesuatu yang sifatnya konsisten setiap saat.

Selain itu, dia juga menyebutkan kalau para pria maupun wanita cenderung lebih menunjukkan ketertarikan mereka terhadap lawan jenisnya.

Kalau memang begitu, kenapa semakin majunya zaman hal ini malah cenderung berubah? Kenapa banyak individu yang kini lebih tertarik kepada sesama jenisnya?

Ternyata jawabannya adalah dikarenakan orientasi seksual seseorang sejatinya bukanlah sekadar bawaan lahir. Ada banyak faktor lain yang juga mempengaruhi ketertarikan seksual tersebut, seperti misalnya faktor lingkungan, keluarga, pola asuhan, dan trauma. Hal inilah yang pada akhirnya mendorong kemunculan dari berbagai jenis orientasi yang ada saat ini.

Penemuan AI Yang Bisa Mengidentifikasi Wajah Gay

Ketika bertemu atau berpapasan dengan seseorang, bisakah anda mengetahui atau menentukan orientasi seksual yang ia miliki hanya dalam sekali pandangan?

Pasti tidak bisa kan? Kebanyakan orang sih baru bisa menyadari kelainan seksual orang lain ketika mereka sudah lama kenal atau sering melakukan komunikasi ataupun kontak sosial. Itupun hasilnya tidak akurat.

Tapi, bukan berarti hal yang tidak mungkin untuk melakukannya. Alpalagi di zaman yang sudah secanggih sekarang ini. Hal tersebut berhasil dibuktikan dengan penciptaan sebuah kecerdasan buatan, yang diklaim bisa mengetahui orientasi seksual seseorang hanya dengan menganalisa gambaran wajah mereka.

Pernyataan ini didapat dari sebuah penelitian baru yang kontoversial, yang dilakukan beberapa waktu yang lalu.

Hasil Penelitian

Menurut para peneliti yang mengatakan kalau mereka merasa “benar-benar terganggu” dengan temuan mereka sendiri tersebut, mengaku bahwasannya keakuratan sistem AI ini bisa mencapai 91 persen saat mendeteksi pria homoseksual dan 83 persen untuk wanita homoseksual.

Studi ini juga menyimpulkan bahwa pria dan wanita homoseksual cenderung memiliki “gaya morfologi dan ekspresi wajah yang identik dengan riasan

Di dalam sebuah makalah yang berjudul Deep Neural Network, hasil pendeteksian dari AI ditemukan jauh lebih akurat, jika dibandingkan dengan manusia, terutama dalam mendeteksi orientasi seksual dari gambar wajah. Makalah penelitian ini ditulis oleh Yilun Wang dan Michal Kosinski dari Stanford University dan pertama kali dimuat oleh Economist.

Di dalam jurnal tersebut, mereka mengklaim dan menunjukkan bahwa wajah ternyata mengandung lebih banyak informasi mengenai orientasi seksual daripada yang dapat dirasakan dan ditafsirkan oleh otak manusia.

Para periset menggunakan jaringan syaraf dalam untuk menganalisis 35.326 gambar wajah, yang diambil dari situs kencan Amerika Serikat, dengan tujuan khusus yaitu untuk mengidentifikasi “hubungan antara karakteristik dan fitur wajah yang mungkin tidak terjawab atau mungkin sering disalahartikan oleh otak manusia“.

Algoritma yang digunakan pada AI ini memperhitungkan fitur “tetap”, seperti bentuk hidung atau mata dan fitur “sementara”, yang oleh para periset didefinisikan sebagai gaya perawatan.

Namun, hanya peserta kulit putih saja yang terlibat dalam penelitian ini, karena para peneliti “tidak dapat menemukan peserta gay non-kulit (kulit hitam dan sebagainya) dalam jumlah yang cukup” dan juga tidak mempertimbangkan atau mengikutsertakan orang transgender atau biseksual di dalam penelitian tersebut.

Ketika sistem itu dipresentasikan dengan menggunakan satu gambar seorang pria homoseksual dan gambar seorang pria heteroseksual, para periset mengatakan bahwa kecerdasan buatan yang mereka gunakan tersebut bisa dengan benar menempatkan pria gay sebagai kategori “lebih cenderung menjadi gay” yang terdapat di sistem.  Adapun keakuratan yang didapat adalah sekitar 81 persen.

Perbandingan Keakuratan Dengan Menggunakan Analisis Manusia

Akurasi kemudian menjadi meningkat secara signifikan, ketika menggunakan jumlah gambar yang tersedia dari masing-masing orang. Adapun persentasinya adalah mencapai 91 persen untuk lima gambar.

Namun khusus untuk wanita ketepatannya agak rendah, yaitu mulai dari 71 persen (untuk satu gambar) sampai 83 persen (untuk lima gambar per orang).

Hasil yang didapat dari teknologi AI tersebut kemudian dibandingkan dengan analisa dari juri manusia. Dan tahukah anda apa hasilnya? Keakuratan manusia dalam menganalisis orientasi seksual lewat gambar lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan kecerdasan buatan.

Penelitian mengklaim bahwa analisis yang didapat oleh manusia hanyalah mencapai akurasi sebesar 61 persen untuk pria dan 54 persen untuk wanita

Dengan diperolehnya hasil penelitian ini, maka teori hormon prenatal pun ikut mendapatkan dukungan yang kuat. Teori ini berpendapat bahwa orientasi seksual jenis kelamin yang sama, berasal dari kekurangan janin laki-laki dan terlalu banyak janin perempuan dan balita prenatal, yang bertanggung jawab atas diferensiasi wajah, preferensi dan perilaku.

Akan tetapi meskipun demikian, mereka menekankan bahwasannya temuan tersebut tidak menyiratkan bahwa semua pria gay (homoseksual) terlihat lebih feminin dibandingkan dengan semua pria heteroseksual, atau bukan berarti tidak ada pria gay memiliki fitur wajah maskulin (dan sebaliknya dalam kasus lesbian).

Jadi jangan sampai anda salah mengartikan temuan ini ya guys.

Karakteristik Wajah Homoseksual Versi Kecerdasan Buatan

Para periset mengatakan bahwa pria homoseksual ditemukan memiliki rahang yang lebih sempit, hidung yang lebih panjang, dahi yang lebih besar dan rambut wajah yang lebih sedikit daripada pria heteroseksual.

Sedangkan untuk wanita homoseksual cenderung memiliki rahang yang lebih besar dan dahi yang lebih kecil daripada wanita heteroseksual.

Bukan hanya itu saja, lesbian cenderung menggunakan sedikit riasan mata, memiliki rambut yang lebih gelap dan mengenakan pakaian kurang terbuka (perhatikan garis leher yang lebih tinggi).

Itulah beberapa contoh karakteristik wanita homoseksual, yang diperoleh dengan mengindikasikan perawatan dan gaya feminin mereka. Selain itu, meskipun wanita pada umumnya suka atau cenderung tersenyum, namun lesbian sedikit berbeda. mereka tersenyum lebih jarang dari rekan heteroseksual mereka.

Bukan hanya itu saja, pria atau wanita homoseksual juga memiliki kaitan dengan penggunaan topi baseball. Konsistensi hubungan antara topi baseball dan maskulinitas dalam budaya Amerika, pria heteroseksual dan lesbian cenderung memakai topi baseball.

Kontroversi Penggunaan AI Terhadap Privasi Seseorang

Menurut para peneliti, temuan mereka ini telah mengungkapkan ancaman potensial terhadap privasi dan keamanan pria dan wanita gay yang ada di seluruh dunia, karena pemerintah dan perusahaan siap untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi pengenalan wajah, yang dirancang untuk memprediksi hal-hal seperti kemungkinan karyawannya untuk melakukan kejahatan atau menjadi pedofil.

Di beberapa negara, telah dibuat undang-undang yang mengkriminalkan perilaku seksual sesama jenis. Bahkan di delapan negara, termasuk Iran, Mauritania, Arab Saudi dan Yaman para pelakunya bisa dihukum mati.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menginformasikan kepada para pembuat kebijakan, perusahaan teknologi dan yang paling penting yaitu komunitas gay, tentang perkiraan prediksi berbasis wajah yang tepat.

Para peneliti juga mengatakan bahwa mereka berharap penelitian selanjutnya dapat digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara fitur wajah dan kepribadian, pandangan politik dan kondisi psikologis.

Karena banyaknya kontroversi pada kecerdasan buatan ini, para peneliti pun berencana untuk memikirkan kembali apakah nantinya teknologi ini layak untuk diluncurkan atau dipublikasikan. Kalau menurut anda bagaimana? Setujukah anda jika teknologi ini nantinya diberlakukan? Kalau setuju, apa alasan anda?

Apapun yang menjadi keputusan para peneliti ini, semoga saja menjadi keputusan yang bijaksana dan tidak merugikan pihak manapun. Setuju nggak?

Demikianlah informasi yang bisa kami sampaikan, semoga bisa menambah wawasan anda tentang perkembangan teknologi, khususnya untuk Artificial Intelligency yang sedang marak di dunia saat ini.