‘Zona Hitam’ Misterius di Greenland Menjadi Semakin Gelap, Ini Penyebab dan Dampaknya

‘Zona Hitam’ Misterius di Greenland Menjadi Semakin Gelap, Ini Penyebab dan Dampaknya

Merasakah anda kalau akhir-akhir ini ada banyak sekali fenomena alam yang telah terjadi di planet kita ini? Pernahkah anda bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi?

Atau, apakah anda akan tetap pada sikap anda yang cuek dan tidak begitu memperdulikan keadaan Bumi tempat dimana anda tinggal ini? Semoga saja tidak begitu.

Dari banyaknya kejadian alam yang terjadi baru-baru ini, seperti peristiwa hari tanpa bayangan misalnya, ternyata ada sebuah fenomena unik yang cukup menarik perhatian kami, sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk membahasnya hari ini.

Peristiwa itu terjadi di Greenland kira-kira beberapa hari yang lalu. Saat dilihat dari atas, biasanya kita akan melihat sebagian besar lapisan es di Greenland tampak seperti bidang luas yang berwarna putih cemerlang.

Akan tetapi, pada bulan-bulan musim panas, sepertinya sesuatu yang aneh mulai terjadi di daerah tersebut. Bagian atau margin Barat daerah tersebut tampak diarsir oleh zona gelap, yang kelihatannya menjadi semakin gelap dalam beberapa tahun terakhir ini.

Pertanda apakah ini? Apakah ini pertanda bahwa laju peleburan akan semakin cepat? Apa dampak yang mungkin akan muncul akibat peristiwa ini?

Apakah ini pertanda bahwa sebentar lagi dunia akan berakhir? Eits, jangan asal berargumen dulu kawan, karena para ahlinya sepertinya telah menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini telah menawarkan sebuah penjelasan untuk menggambarkan hal yang terjadi terkait dengan fenomena tersebut. Lantas, apa yang dikatakan oleh hasil peneliian tersebut? Penasarankan?

Munculnya Zona Gelap di Greenland

Greenland merupakan sebuah wilayah otonom Denmark, yang berada di antara Atlantik Utara dan Samudera Arktik. Sebagian besar permukaan daerah ini tertutup oleh es.

Sebagian besar populasi kecilnya hidup di sepanjang pantai bebas es, fjord-lined, khususnya di bagian barat daya. Di sebelah utara pulau ini, yang sebagian besar berada di atas Lingkaran Arktik, biasanya menghasilkan fenomena alam seperti : matahari tengah malam pada musim panas dan cahaya utara pada musim dingin.

Daerah ini memiliki jumlah populasi sekitar 50.000 penduduk. Greenland ini adalah sebuah pulau terbesar di dunia dan bukan termasuk benua.

Karena biasanya tempat ini tertutup dengan lapisan es putih, kemunculan zona gelap di daerah tersebut tentu akan mengundang tanda tanya yang besar pada sebagian besar masyarakat, termasuk di kalangan para ilmuwan. Belum lagi kabarnya zona tersebut semakin hari tampak semakin gelap.

Hal tersebut lantas membuat para ahli mulai menyelidiki apa yang telah terjadi sebenarnya di daerah itu dan sepertinya mereka berhasil menemukan jawabannya.

Jika kita flashback ke belakang, pada tahun 1950-an yang lalu, para ilmuwan pernah berpikir atau berasumsi bahwa lapisan es yang menutupi Greenland kemungkinan besar menyembunyikan tiga pulau yang terpisah, yang bergabung dengan gletser sejak zaman es terakhir.

Namun, kebenaran asumsi ini masih dalam tahap penyelidikan atau penelitian yang lebih lanjut, alias belum diketahui apakah hal tersebut memang benar atau tidak. Jadi harap sabar ya menunggu informasi lanjutannya.

Zona Gelap Greendland Berasal Dari Alga

Berdasarka analisis para ilmuwan, zona gelap yang terdapat di Greenland itu berasal dari alga yang hidup atau tinggal di sana. Nah, yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa alga-alga tersebut bisa berwarna hitam? 

Ternyata, warna hitam pada alga disebabkan oleh paparan kotoran gas tertentu. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat pernyataan ahli di bawah ini:

“Apa yang kami dapatkan dari hasil penelitian kami adalah bahwa zona gelap di Greenland terjadi karena lapisan es tertutup oleh debu dan karbon hitam yang terdistribusi dengan baik, yang akhirnya membuat tanaman alga yang hidup di sana berubah warna menjadi gelap,” kata penulis studi Alun Hubbard, yang merupakan seorang profesor di Pusat Lingkungan dan Iklim Serta Gas Hidrat Artik Norwegia.

Menurut National Snow and Ice Data Center (Pusat Data Salju dan Es Nasional), Lapisan es di pulau beku ini mencakup lebih dari 80 persen daratan Greenland, tepatnya  sekitar 656.000 mil persegi (1,7 juta kilometer persegi). Kalau dihitung-hitung, ukuran wilayah ini tiga kali ukuran Texas.

Rata-rata ketebalan es di tempat ini adalah lebih dari satu mil dan mengandung 8 persen air tawar dunia. Menurut NASA, Jika daerah ini meleleh dengan sempurna, maka permukaan laut global akan naik sekitar 23 kaki (7 meter).

Dengan adanya prospek atau kemungkinan hal tersebut akan terjadi di kedepannya, para ilmuwan telah mencoba untuk memahami alasan mengapa penyusutan lapisan es di Greenland bisa semakin meningkat selama beberapa dekade terakhir.

Perlu anda ketahui, salju dan es yang menyilaukan ini pada umumnya memiliki reflektivitas atau albedo yang tinggi.

Albedo sendiri merupakan besaran yang menggambarkan perbandingan antara sinar Matahari yang tiba di permukaan bumi dan yang dipantulkan kembali ke angkasa, yang ditandai dengan terjadinya perubahan panjang gelombang (outgoing longwave radiation).

Artinya, salju dan es tersebut lebih cenderung lebih banyak merefleksikan atau memantulkan energi matahari daripada yang mereka serap.

Bagaimanapun, bagian zona gelap dan daerah lelehan akan menyerap lebih banyak energi matahari dan dapat mendorong terjadinya umpan balik positif, yang mengarah ke pencairan yang lebih dalam pada lapisan es. Dengan kata lain, zona gelap di Greenland ini telah menjadi fokus dari beberapa penelitian terbaru.

“Karena pada kenyataannya sebagian besar sisi barat lapisan es Greenland telah menjadi gelap, itu berarti proses melelehnya es tersebut telah sampai lima kali lipatnya permukaan salju yang cemerlang,” kata Hubbard.

Hubbard dan rekan-rekannya sebelumnya telah pergi ke Greenland pada bulan Agustus 2014 yang lalu untuk melihat keadaan es di sana dan mereka juga menggunakan drone yang diluncurkan langsung untuk menangkap gambar resolusi tinggi dari bagian zona gelap yang terdapat di daerah itu.

Sementara ceruk dan kolam air yang meleleh menggambarkan beberapa bintik-bintik gelap, para peneliti mengamati bahwasannya sebagian besar permukaan bayangan di sana tampak seperti diselimuti oleh kotoran.

Kotoran ini termasuk debu dan jelaga yang terperangkap dan telah terkumpul selama bertahun-tahun, yang mungkin berasal dari sisa-sisa kebakaran dan limbah pabrik yang berada di dekat wilayah itu.

Dan baru-baru ini, para ilmuwan berhasil menemukan hal lain yang berperan dalam pembuatan zona gelap di greenland tersebut.

Usut punya usut, warna gelap itu rupa-rupanya berasal dari tanaman alga yang berwarna gelap yang juga terkena paparan dari kotoran debu yang sama. Penemuan ini telah dipublikasikan di dalam jurnal Nature Communications.

Di dalam jurnal tersebut, para ilmuwan menulis bahwa sifat dan penyebab adanya kotoran yang terdapat pada lapisan es ini masih belum diketahui dan dipahami sepenuhnya. Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kemungkinan efek umpan balik yang kompleks di zona gelap tersebut.

“Ganggang atau alga akan membutuhkan nutrisi dan makanan untuk bisa hidup dan berkembang. Dan pada dasarnya, debu, karbon organik dan air adalah sumber asupan makanan yang bisa mereka dapatkan di daerah Greenland”, Hubbard menjelaskan dalam pernyataan itu.

Dia juga mengatakan bahwa pada saat musim panas tiba, kotoran debu yang terdampar di sana akan berlimpah, sehingga populasi alga pun menjadi semakin meningkat (tumbuh dengan subur).

Kalau demikian kasusnya, maka bisa diambil kesimpulan bahwa keberadaan ganggang atau alga yang berwarna gelap inilah yang memperkuat zona gelap tersebut. Tak heran jika semakin lama zona tersebut menjadi semakin gelap seiring berjalannya waktu.

Bagaimana? Sekarang anda sudah ketemu kan dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tadi kita utarakan di atas tadi?

Oops, sepertinya ada satu pertanyaan lagi yang belum kita simpulkan. Apakah itu? 

Karena tadi sudah dijelaskan bahwa zona hitam yang terdapat di Greenland umumnya akan lebih cenderung menyerap energi matahari, maka itu berarti akan lebih banyak lagi pencairan yang terjadi (Proses peleburan atau mencairnya es akan meningkat atau semakin cepat).

Nah, sekarang semua pertanyaan sudah tuntas dijawab, bukan? Gimana? Sudah puaskah anda denga penjelasan yang kami berikan ini?

Kalau belum, anda bisa mencari sumber-sumber lain yang mungkin memiliki informasi yang jauh lebih lengkap. Tapi sejauh ini, seperti inilah informasi yang telah kami dapat dan bisa kami bagikan untuk anda.