Hadapi Perang Dingin, Berbagai Negara Persiapkan AI Sebagai Senjata

Hadapi Perang Dingin, Berbagai Negara Persiapkan AI Sebagai Senjata

Saat mendengar kata Artificial Intelligence, apakah yang langsung terlintas di dalam benak anda? Banyak di antara anda yang akan memikirkan “Robot”, bukan?

Anda tidak salah jika menjawab seperti itu, karena Robot memang bagian dari kecerdasan buatan yang saat ini sedang hangat-hangatnya menjadi bahan perbincangan dunia.

Kecerdasan buatan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang diciptakan dengan memanfaatkan mesin, dengan tujuan untuk memecahkan persoalan yang rumit dengan cara yang lebih manusiawi.

Pembicaraan tentang kecerdasan buatan (AI) di zaman modern seperti sekarang ini memang tidak pernah ada habisnya. Selalu saja ada hal-hal baru dan unik yang berhubungan dengan Artificial Intelligence, yang berhasil diciptakan oleh para ahli-ahli teknologi yang ada di dunia.

Melihat perkembangannya hingga saat ini, tidak menutup kemungkinan kalau kelak di masa yang akan datang, kecerdasan buatan ini akan ambil bagian di dalam seluruh bidang kehidupan manusia, yang diantaranya meliputi: bidang kedokteran, pemerintahan, ekonomi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Wow,wow, kalau begitu jadinya gimana nasib manusia di masa depan ya guys? Apakah nantinya kehidupan di dunia ini akan dipenuhi dengan mesin-mesin yang bisa berjalan tersebut? Dan mungkinkah manusia yang kelak akan dipekerjakan oleh mesin?

Ya, kalau dipikir-pikir sih sangat kecil kemungkinan terjadinya. Tapi kan tidak ada salahnya kalau kita punya pemikiran seperti itu, mengingat di zaman moderen seperti sekarang ini manusia sedang gencar-gencarnya menciptakan mesin-mesin terbaik, yang bisa digunakan dalam beberapa hal, yang pastinya bisa menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Penggunaan AI Dalam Perang Dingin

Bahkan saat ini, Artificial Intelligence (AI) atau yang lebih dikenal dengan sebutan kecerdasan buatan tersebut tampaknya akan dipakai menjadi “senjata pilihan” di tengah-tengah situasi dunia yang sedang memanas dan menegangkan. Yap, situasi yang dimaksud adalah perang dingin yang sedang terjadi di antar beberapa negara.

Kalau menurut anda sendiri bagaimana? setujukah anda jika AI digunakan sebagai senjata dalam perang dingin? Yang pasti kita semua pasti tahu kalau yang namanya perang tidak ada yang baik dan pastinya hanya akan menimbulkan kekacauan dan kehancuran, sekalipun itu perang dingin. Ada yang setuju tidak dengan pendapat ini?

Menurut seorang ahli teknologi, AI adalah sebuah peringatan yang mengerikan. Dia yakin kalau “dunia mungkin akan masuk atau mungkin sudah masuk ke dalam perang dingin lain, setelah perang dingin yang sebenarnya yang terjadi beberapa tahun yang silam. Kali ini perang tersebut didorong oleh keberadaan AI”.

Perang dingin yang seperti apakah yang dimaksud di sini? Dan peran seperti apa yang dimiliki oleh AI tersebut? Berikut ini penjelasannya.

 

Jeremy Straub, yang merupakan asisten profesor di North Dakota State University percaya bahwa meskipun Amerika Serikat dan Rusia diketahui telah melakukan dekomisioning ribuan senjata nuklir, intelijen buatan (AI) tetap memiliki potensi yang besar untuk menjadi sebuah ancaman baru.

Dekomisioning sendiri merupakan suatu kegiatan untuk menghentikan beroperasinya reaktor nuklir secara tetap, yang dilakukan dengan cara pemindahan bahan bakar nuklir dari teras reaktor, pembongkaran komponen reaktor, dekontaminasi dan pengamanan akhir.

Dia juga mengatakan, kalau dihitung-hitung, ini sudah lebih dari 30 tahun setelah perang dingin berakhir, dimana Amerika Serikat dan Rusia telah membatalkan serangan puluhan ribu senjata nuklir. Waw, ribuan bukanlah jumlah yang sedikit guys.

Bagaimana coba kalau sampai nuklir-nuklir tersebut secara keseluruhannya jadi digunakan dalam perang beberapa tahun yang lalu, apa yang akan terjadi coba?

Pasti nggak akan kebayang deh gimana hancur dan berantakannya kehidupan yang ada di dunia ini, terutama pada masa-masa perang itu. Untunglah perang tersebut tidak berhasil terlaksana atau berhasil dihentikan pelaksanaannya.

Namun sayangnya, meskipun sudah lama diakhiri, ketegangan di antara kedua kubu tersebut masih tetap berlangsung hingga saat ini bahkan sempat semakin pelik.

Kalau dahulu perang dingin identik dengan persiapan nuklir, tapi untuk saat ini perang dingin kelihatannya akan mencakup serangan cyber, yang kemudian akan didukung dengan kekuatan nuklir yang diakibatkan oleh konflik sekutu. Dan tanpa anda sadari hal tersebut sudah terjadi sekarang.

Walaupun dunia memiliki berbagai perjanjian mengenai senjata nuklir, Mr. Staub mengklaim bahwasannya untuk saat ini senjata maya, yang terutama didukung oleh AI masih dianggap sebagai “permainan yang masih berjalan secara fair atau adil” untuk kedua belah pihak.

Keunggulan AI Sebagai Senjata

Sistem AI dikenal memiliki “kemampuan pengambilan keputusan yang cepat“, yang bahkan “lebih cepat dari yang dapat dipahami oleh manusia“.

Mr. Straub menuliskan sebuah konservasi, dimana jika nantinya serangan atau perang tak lagi bisa dihindari, kecerdasan buatan (AI) bisa digunakan sebagai senjata, mengingat mesin ini bisa bertindak lebih cepat tanpa adanya keraguan sedikit pun.

Kemampuan memberikan respon secara otomatis yang cepat inilah, yang diyakini dapat membantu memastikan potensial atau kemampuan musuh dari sebuah negara. Dan senjata ini sudah siap dan tersedia untuk segera digunakan, sebagai kunci untuk memastikan efektivitas kehancuran sebagai langkah pencegahan.

Selain itu, AI juga bisa digunakan untuk mengendalikan senjata non-nuklir termasuk kendaraan tak berawak seperti pesawat tak berawak (drone) dan senjata cyber.

Serangan ter-koordinasi dari AI ini bisa meluncurkan senjata dunia maya atau dunia nyata hampir dalam waktu yang seketika, serta membuat keputusan untuk menyerang, bahkan sebelum manusia atau lawannya memperhatikan alasan mesin tersebut melakukannya.

Sistem AI juga dapat mengubah target dan teknik yang lebih cepat dari yang dapat dipahami manusia, apalagi menganalisisnya.

Misalnya saja, sebuah sistem kecerdasan buatan bisa meluncurkan pesawat tak berawak untuk menyerang sebuah pabrik, mengamati drone yang merespon untuk membela dan meluncurkan serangan cyber pada pesawat tak berawak tersebut, tanpa adanya jeda atau henti.

Sebagai perangkat lunak, kecerdasan buatan ini akan terus berkembang dikedepannya. Mesin ini nantinya dipercaya akan memiliki kemampuan hebat, terutama dalam membuat keputusan, yang didasarkan pada data yang lebih banyak dan pastinya memutuskannya lebih cepat daripada yang dapat ditangani oleh manusia.

Sebagai seseorang yang meneliti penggunaan AI untuk aplikasi yang beragam, seperti pesawat tak berawak, kendaraan otonom (yang bisa berjalan sendiri) dan sistem keamanan cyber, Mr.Straub merasa khawatir jika dunia sampai masuk, atau mungkin sudah masuk ke dalam perang dingin yang menggunakan senjata kecerdasan buatan (AI).

Oleh karena itu, Dia mencoba untuk membandingkan antara pengejaran teknologi yang ada saat ini, terhadap ruang dan senjata yang digunakan selama perang dunia yang terjadi antara Amerika dan Rusia (dulunya bernama Uni Soviet) di masa lalu.

Menurut Mr. Straub, fokus Rusia saat ini adalah terletak pada pentingnya kecerdasan buatan tersebut.

Tahun lalu, Vladimir Putin pun berharap kalau nantinya kecerdasan buatan ini bisa menjadi kunci bagi Rusia, untuk mengalahkan Amerika Serikat dengan anggaran militer yang lebih kecil. Lumayan kan bisa menghemat pengeluaran. Iya nggak guys?

Saat berbicara dengan Akademi Rudal Strategis barunya yang berada di luar Moskow, Presiden Rusia mengatakan bahwa Rusia harus bisa menjadi salah satu negara pemimpin dan di beberapa daerah telah menjadi pemimpin mutlak, terutama dalam menciptakan tentara generasi baru, yaitu angkatan dari sebuah paradigma teknologi baru yang bernama AI.

Kita harus pintar. Kita tidak harus mengandalkan otot militer saja,” katanya.

Bukan hanya Rusia, China juga dikatakan sedang dalam proyek yang sama, tepatnya setelah Beijing mengumumkan sebuah taman penelitian senilai 1,5 juta poundsterling, yang didedikasikan untuk kecerdasan buatan.

Sebuah laporan pentagon tahun lalu juga telah memperingatkan China untuk berinvestasi pada AS, sebagai sebuah permulaan dalam upaya untuk menghidupkan kembali perkembangan Amerika.

Sementara itu, seorang kapitalis ventura Jim Breyer juga memperingatkan akselerasi AI di China.

Dia mengatakan kalau China memiliki hal-hal yang luar biasa, besar, inovatif dan lain sebagainya, dimana dalam banyak kasus memiliki bakat AI yang terbaik. Dan itu membawa banyak peluang bagi para pengusaha yang ada di sana.

Sungguh menakjubkan apa yang kita lihat dalam hal teknologi AI yang diterapkan di China ini,” kata Meyer.

Berita tersebut disampaikan setelah Dr. Paul Miller, yang bertugas di Dewan Keamanan Nasional AS (NSC), yang berada di bawah naungan mantan presiden George W Bush dan Barack Obama, secara eksklusif mengatakan bahwa persaingan dan kecurigaan yang terjadi selama Perang Dingin tidak bisa dihentikan.

Dr. Miller juga mengatakan kalau perang dingin hanyalah kelanjutan persaingan kekuasaan dan kecurigaan yang besar, di bawah kondisi unik bipolaritas dan persaingan ideologis yang nyata.

“Saat ini ada kekuatan yang lebih besar, dimana kita memiliki kompetisi multipolar dan bukannya bipolar. Persaingan ideologis telah bergeser dari komunisme melawan kapitalisme ke sebuah rezim antara kapitalisme otoriter melawan kapitalisme demokratis liberal”, katanya.

Adanya hubungan perdagangan yang terjalin di antara kekuatan-kekuatan besar selama perang dingin berlangsung, membuat semua kekuatan yang ada tersebut menjadi ragu untuk mengambil resiko dari konflik yang terjadi, yang bisa menyebabkan bencana pada sistem perekonomian mereka.

Dengan kata lain, mereka tidak bisa saling mengabaikan atau mengasingkan diri satu sama lain.

Mantan penasihat keamanan nasional tersebut juga mengungkapkan bagaimana perang selanjutnya bisa meningkat, yang dipercaya dimulai dengan taktik cyber dan anti-satelit oleh negara agresor.

Kesimpulan

Sejauh ini hanya informasi ini saja yang masih bisa kami sampaikan mengenai kemungkinan terjadinya perang dingin antar negara di dunia, yang dipicu oleh konflik lama antara Rusia dan Amerika Serikat.

Amerika Serikat dan Rusia masing-masing menuduh pihak satu sama lain mencampuri urusan dalam negeri mereka. Keduan negara ini merupakan negara yang cukup berpengaruh di dunia, khususnya dalam hal persenjataan dan teknologi. Jadi tidak heran jika banyak negara yang merasa khawatir jika sampai terjadi perang lagi di masa mendatang.

Seperti pada masa Perang Dingin setelah Perang Dunia II, negara-negara terus berkembang dan membangun senjata andalam mereka dengan mebggunakan teknologi yang sudah maju.

Dulunya, perang pingin didominsasi dengan penggunaan senjata rudal nuklir. Sedangkan untuk saat ini, perang tampaknya akan didominasi oleh software yang bernama AI, yang kemungkinan akan digunakan untuk menyerang sistem komputer lawan atau target di dunia nyata.