Polisi China Gunakan “Kaca Mata Ajaib” Untuk Kenali Penjahat dan Pelanggar Hukum

Polisi China Gunakan “Kaca Mata Ajaib” Untuk Kenali Penjahat dan Pelanggar Hukum

Teknologi pengenalan wajah kini tak lagi menjadi fitur yang hanya ada di dalam sejumlah film fiksi. Alat canggih ini kini semakin banyak digunakan di dalam kehidupan nyata. Salah satu contohnya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari kita, terutama dalam hal penggunaan gadget seperti handphone misalnya.

Beberapa perusahaan handphone tertentu telah menyematkan teknologi ini di dalam produk tertentu mereka, dengan maksud untuk menarik perhatian para pembeli. Contohnya saja pada salah satu tipe besutan iPhone, yang memiliki kemampuan membuka kunci bukan dengan password atau sidik jari, melainkan dengan pengenalan wajah pemiliknya.

Gimana? Canggih bukan? Anda para pemilik jenis ponsel pintar ini tentu sudah merasakan hal tersebut. Dan untuk yang belum, anda bisa mulai menabung sekarang untuk bisa mendapatkannya, karena harga ponsel jenis ini pasti lah sangat mahal.

Selain penggunaannya pada ponsel pintar, teknologi pengenalan wajah semacam ini juga bisa anda temukan ketika anda terbang dengan Jetblue dari Boston ke Aruba atau Republik Dominika.

Di sana, anda akan memiliki opsi untuk menggunakan wajah sebagai boarding pass anda, yaitu sebuah sistem yang melibatkan algoritma Pabean dan Perlindungan Perbatasan di luar AS.

Bukan hanya itu saja, sekarang ini penggunaannya kian semakin berkembang hampir dalam segala bidang dan hal di kehidupan manusia. Salah satunya telah diterapkan di China.

Teknologi tersebut kini disematkan atau ditampilkan dalam rupa kamera yang melekat pada kacamata hitam, yang dikenakan oleh para petugas polisi di negara tersebut. Hal ini disampaikan di dalam jurnal The Wall Street beberapa bulan lalu. Anda pasti penasarankan untuk apa alat ini digunakan oleh polisi di China? Mari temukan jawabannya di bawah ini.

Penggunaan Kacamata Pengenal Wajah Oleh Kepolisian China

Polisi kereta api di negeri tirai bambu, China dikabarkan telah menggunakan sebuah teknologi canggih untuk mempermudah pekerjaan mereka. Alat tersebut berupa sebuah kacamata hitam.

Kalau dilihat sekilas, mungkin banyak dari anda yang tidak menyadari kalau yang mereka pakai tersebut adalah sebuah alat ajaib, bukan sekedar kacamata biasa yang dipakai orang-orang untuk bergaya atau sekedar mendukung penampilan mereka.

Kacamata jenis ini tidak akan anda temukan di toko-toko aksesoris atau optik yang banyak bertebaran di sekeliling anda, karena ini memang diciptakan bukan untuk publik, melainkan khusus untuk instansi -instansi pemerintah saja.

Saat ini mungkin begitulah konteks pemakaiannya, tapi dikedepannya kita tidak tahu apakah nantinya benda tersebut juga akan tersedia untuk umum atau tidak.

Apa yang membuat kacamata ini berbeda dari kaca mata pada umumnya?

“Tidak ada satu pun benda di dunia ini yang diciptakan tanpa adanya tujuan”. Apakah anda setuju dengan pernyataan barusan? Kalau anda setuju, berarti anda sependapat dengan kami. Tapi kalau tidak, itu tidak menjadi masalah karena setiap orang berhak untuk berpendapat dan mengeluarkan argumennya.

Mari kita ambil sebuah contoh sederhananya, manusia menciptakan pakaian tentu ada tujuannya, bukan? Yaitu untuk menutupi dan melindungi tubuh dari panas dan sebagainya. Begitu pula dengan pembuatan kaca mata hitam yang saat ini digunakan oleh polisi di sebuah daerah di China yang sedang kita bahas sekarang.

Tentu ada makna atau tujuan mereka menciptakannya. Apalagi kacamata yang dibuat tersebut bukanlah benda yang sembarangan, karena alat penutup mata ini menggunakan sebuah teknologi detektor atau pengenal wajah.

Untuk apa polisi mengenakan alat penutup mata ini?

Polisi China menggunakan kacamata hitam ajaib ini untuk menangkap orang-orang yang mencurigakan di stasiun kereta api di Zhengzhou, yang merupakan ibu kota dari provinsi Henan tengah.

Kalau diperhatikan, kacamata itu terlihat mirip dengan Google Glass, yaitu sebuah merek kacamata pintar yang menampilkan informasi dalam format handsfree yang menyerupai ponsel cerdas.

Pendeteksi wajah berupa kacamata tersebut dikabarkan telah diresmikan awal tahun ini di China dan terbukti sangat bermanfaat dan membantu pekerjaan polisi.

Dengan benda ini, polisi berhasil mengidentifikasi tujuh tersangka atau penjahat. Berita ini dimuat di dalam harian resmi Partai Komunis People’s Daily.

Penutup mata berwarna hitam tersebut terhubung ke sebuah database yang bisa menyesuaikan atau mencocokkan wajah para pelancong atau wisatawan dengan para pelaku kriminal.

Belum begitu jelas berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencocokkannya, akan tetapi menurut Lu Fei, selaku CEO Teknologi LLVision yang mengembangkan kacamata tersebut mengatakan bahwa, selama pengujian dilakukan, sistem yang diciptakannya bisa mengidentifikasi wajah dari 10.000 database dalam waktu 100 milidetik.

Namun, walaupun demikian, menurut Lu Fei tingkat akurasi penggunaan alat ini sangatlah bervariasi karena dipengaruhi oleh keramaian atau lingkungan.

Bagaimana sebenarnya cara kerja alat ini?

Pada kacamata canggih ini terdapat sebuah camera kecil yang terpasang pada lensa sebelah kanannya. Kamera itu terhubung dengan kabel elektronik ke perangkat genggam yang dibawa oleh para petugas polisi saat bertugas.

Perangkat tersebut memiliki sebuah aplikasi dimana petugas dapat memproses gambar yang mereka ambil dari individu yang mencurigakan. Informasi itu kemudian akn dikirim ke database untuk melihat perbandingan dengan informasi tersangka pada daftar yang dicari.

Aplikasi ini juga memungkinkan akses ke database yang akan memberikan informasi apakah tersangka tersebut tengah melarikan diri dari polisi atau tidak dan bahkan catatan kriminal terakhir yang pernah mereka lakukan pun bisa diketahui dengan menggunakan teknologi ini.

Sejauh ini, apa yang sudah berhasil dilakukan oleh polisi china dengan bantuan kacamata tersebut?

Sejauh ini, alat penutup mata tersebut telah berhasil mengidentifikasi beberapa orang yang dicurigai melakukan beberapa jenis kejahatan, seperti pelanggaran lalu lintas dan tindakan kejahatan seperti perdagangan manusia. Sebanyak 26 orang yang kedapatan menggunakan dokumen palsu juga berhasil dicegat untuk bepergian.

Tidak seperti di Indonesia, dimana orang-orang bisa dengan bebas bepergian dengan kereta api, di China, orang-orang harus menggunakan dokumen identitas mereka untuk bisa melakukan perjalanan dengan alat transportasi tersebut.

Aturan yang mereka buat ini berfungsi untuk mencegah orang-orang yang memiliki banyak hutang bepergian dengan kereta cepat dan juga membatasi pergerakan pihak-pihak tertentu yang masuk dan keluar dari stasiun tersebut.

Meskipun ini merupakan pertama kalinya para pejabat China menggunakan benda hitam tersebut untuk meng-implementasikan pengenalan wajah (yang dikhususkan untuk polisi), namun berdasarkan informasi yang kami dapat, saat ini mereka juga sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar lagi.

Sebenarnya, pengenalan wajah seperti ini telah diluncurkan dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari di negara tersebut, seperti misalnya penggunaannya untuk masuk ke asrama universitas dan tempat kerja, pada saat menarik uang tunai dari mesin ATM dan bahkan untuk membeli KFC. 

Dan sekarang, mereka berencana untuk membuat sebuah sistem yang akan mengenali satu dari 1,3 miliar warganya hanya dalam waktu 3 detik. Apakah nantinya ini bisa berhasil mereka wujudkan?

Meskipun rencana tersebut terdengar menarik dan keren, namun program ini dikutuk atau tidak disetujui oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, karena mereka menganggap bahwa penerapan teknologi seperti ini telah melanggar hak privasi orang.

“Pihak berwenang China tampaknya berpikir bahwa mereka dapat mencapai ‘stabilitas sosial’ dengan menempatkan orang-orang di bawah alat seperti mikroskop, tetapi program-program pelecehan ini lebih cenderung memperdalam permusuhan terhadap pemerintah,” Sophie Richardson, direktur Human Rights Watch China.

“Beijing harus segera menghentikan program-program ini dan menghancurkan semua informasi data yang dikumpulkan tanpa persetujuan penuh.”

Apakah pemerintah akan mengindahkan penolakan dari beberapa pihak tersebut? Atau mereka akan mengabaikannya begitu saja? Bagaimana menurut anda? Apakah anda setuju dengan rencana pemerintah China ini? Ataukah anda lebih sependapat dengan kelompok Hak Asasi Manusia tersebut?

Kalaulah ini diterapkan di Indonesia, apakah anda setuju? Apa alasan anda mengatakan setuju atau tidak setuju?

Terlepas dari setuju atau tidak setujunya anda, yang pasti, beginilah salah satu cara teknologi bertenaga kecerdasan buatan bekerja atau berfungsi secara umum. Dikedepannya, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dan menakjubkan lagi dibandingkan dengan yang ada sekarang.

Terima atau tidak, semua itu tergantung pada keputusan pemerintah yang mengizinkan penggunaannya. Pemerintah yang baik pasti akan membuat keputusan yang baik dan pastinya akan memperhitungkan segala sesuatunya. Benar nggak sih? Tapi apapun yang terjadi nantinya, kita hanya bisa berharap segala sesuatunya berjalan dengan baik. Setuju?